Bayi Perempuan Perlukah disunat?

Salah satu kontroversi yang masih terus bergulir di kalangan para orang tua adalah sunat pada bayi perempuan. Sebagian orang  menganggap tindakan tersebut tidak manusiawi, sementara sebagian lain menganggapnya tuntunan budaya dan agama. Bagaimana tindakan tersebut dari sisi medis? Sunat atau dalam bahasa medis disebut dengan sirkumsisi adalah tindakan membuang sebagian atau seluruh kulit penutup bagian depan kelamin.

Pada anak laki-laki, tindakan ini dilakukan dengan membuang kulit penutup depan dari glans penis atau dikenal juga dengan nama prepusium. Tujuan melakukan sunat pada anak laki-laki adalah menjaga agar kemaluan bersih dari tumpukan lemak yang terdapat di lipatan kulit prepusium (dikenal sebagai smegma), menurunkan risiko infeksi saluran kemih, infeksi pada penis, maupun risiko mengalami penyakit menular seksual pada usia dewasa.

Tindakan sunat umum dilakukan pada anak laki-laki, namun ada kelompok masyarakat yang melakukan tindakan sunat pada bayi perempuan. Dari segi medis, tidak ada rekomendasi rutin untuk melakukan sunat pada bayi perempuan. Tindakan sunat bayi perempuan ini biasanya dilakukan dengan memotong atau melukai sedikit kulit penutup (prepusium) klitoris. Secara anatomis, tidak semua anak perempuan mempunyai prepusium yang menutupi klitoris maupun saluran kemih, sehingga sunat dinilai tidak perlu dilakukan pada setiap perempuan.

Sunat pada bayi perempuan perlu dilakukan jika sesuai indikasi

Pada tahun 2014 Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 6 Tahun 2014 bahwa sunat perempuan hingga saat ini tidak merupakan tindakan kedokteran karena pelaksanaannya tidak berdasarkan indikasi medis dan belum terbukti bermanfaat bagi kesehatan.  WHO mengeluarkan pedoman baru yang mengatakan bahwa sunat perempuan merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia. WHO pun mendesak agar tenaga kesehatan profesional tidak lagi melakukan prosedur tersebut. Hal ini dikarenakan sunat pada perempuan mencerminkan ketidaksetaraan, bahkan merupakan bentuk ekstrem diskriminasi terhadap perempuan.

Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) tidak merekomendasikan sunat perempuan dalam arti pemotongan klitoris. Hanya saja, pada keadaan tertentu seperti terdapatnya selaput di klitoris, dapat dilakukan pembukaan selaput tersebut. Dari sisi medis, belum ada penelitian berbasis bukti untuk mendukung tindakan rutin sunat pada perempuan. Risiko perdarahan yang besar dan kemungkinan menyebabkan kerusakan pada daerah genital perempuan menyebabkan prosedur ini tidak rutin dilakukan oleh banyak organisasi kesehatan dunia. Bagi para orang tua, baiknya untuk dapat selalu berkonsultasi dengan dokter anak sebelum melakukan sunat pada bayi perempuan.

Pusat Layanan Ibu dan Anak merupakan salah satu keunggulan Rumah Sakit Awal Bros. Lakukanlah pemeriksaan kehamilan demi kesehatan ibu dan janin. Rumah Sakit Awal Bros memiliki dokter kandungan dan dokter anak yang handal di bidangnya. Pusat Layanan Ibu dan Anak menyediakan imunisasi anak dan pemeriksaan lain seperti pemeriksaan pendengaran BERA serta OAE dan medical check up dengan dokter spesialis anak. Temukan jadwal dokter anak kami di sini. Simak juga tips untuk menemukan dokter anak yang bagus dan tepat untuk buah hati Anda di sini untuk melakukan konsultasi dokter anak.

Narasumber :
Dr. Inggriani Tobarasi, SpA, Mkes
Dokter Spesialis Anak RS Awal Bros A.Yani

Ilustrasi gambar: Alyssa Stevenson

Artikel terkait:

 

Bagikan ke :