Tumor Payudara: Apa dan Bagaimana?

Tumor pada payudara adalah benjolan tidak normal akibat pertumbuhan sel yang terjadi secara terus menerus. Risiko terjadinya tumor payudara akan meningkat seiring dengan pertambahan usia dan perubahan yang signifikan dalam gaya hidup masyarakat. Penyebab pasti tumor payudara sampai saat ini juga belum diketahui, namun terdapat beberapa faktor risiko yang telah diketahui dapat meningkatkan timbulnya tumor pada payudara.

Tumor payudara dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak yang paling sering dijumpai adalah fibroadenoma mamae (FAM). FAM paling sering dijumpai pada usia muda. Sedangkan tumor ganas atau kanker payudara merupakan kanker paling umum pada wanita (22% dari semua kasus kematian kanker pada wanita) dan penyebab kematian paling umum pada wanita antara usia 35 dan 55 tahun.  Risiko kanker payudara meningkat dengan  pesat saat menopause. Risiko tinggi terjadi pada wanita usia 60 tahun ke atas dan memiliki kesempatan 3-4% menderita kanker payudara selama satu  dekade kehidupan mereka.

Faktor risiko tumor payudara

Sampai saat ini penyebab pastinya belum diketahui, namun ada beberapa faktor risiko yang teridentifikasi, yaitu :

  1. Jenis kelamin
    Wanita lebih berisiko menderita tumor payudara dibandingkan dengan pria. Prevalensi tumor payudara pada pria hanya 1% dari seluruh tumor payudara.
  2. Riwayat keluarga
    Wanita yang memiliki keluarga tingkat satu penderita tumor payudara berisiko tiga kali lebih besar untuk menderita tumor payudara.
  3. Faktor genetic
    Mutasi gen BRCA1 pada kromosom 17 dan BRCA2 pada kromosom 13 meningkatkan risiko tumor  payudara sampai 85%.
  4. Faktor usia
    Risiko tumor payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia.
  5. Faktor hormonal
    Kadar hormonal yang tinggi selama masa reproduktif, terutama jika tidak diselingi oleh perubahan hormon akibat kehamilan, dapat meningkatkan risiko terjadinya tumor payudara.
  6. Usia saat kehamilan pertama
    Hamil pertama pada usia 30 tahun berisiko dua kali lipat dibandingkan dengan hamil pada usia kurang dari 20 tahun.
  7. Terpapar radiasi
    Misalnya pada pasien  atau petugas yang sering terpapar sinar X saat melakukan pemeriksaan ronsen.
  8. Pemakaian kontrasepsi oral
    Pemakaian kontrasepsi oral dapat meningkatkan risiko tumor payudara. Penggunaan pada usia kurang dari 20 tahun berisiko lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan pada usia lebih tua.
  9. Intake alcohol
  10. Gaya hidup/ life style

Gambaran klinis tumor payudara

Gambaran klinis yang ditemukan yaitu :

  1. Benjolan pada payudara, keras atau lembut/kenyal.
  2. Nyeri yang bervariasi dengan siklus haid dan independen dari siklus haid.
  3. Perubahan pada kulit payudara, berupa : skin dimpling, skin ulcer, peau d’orange.
  4. Gangguan puting, seperti : tertarik kedalam/retraksi, eksim/ruam, discharge.

Dari ciri klinis di atas gambaran klinis tumor jinak payudara adalah sebagai berikut :

  1. Benjolan bentuk bulat, teratur atau lonjong.
  2. Permukaan benjolan rata/licin.
  3. Konsistensi kenyal, lunak.
  4. Batas tegas.
  5. Mudah digerakkan terhadap jaringan sekitar.
  6. Tidak nyeri apabila di tekan.

Sedangkan untuk gambaran klinis tumor ganas payudara adalah sebagai berikut :

  1. Bentuk benjolan tidak teratur.
  2. Permukaan tidak rata atau berbenjol-benjol.
  3. Konsistensi keras, padat.
  4. Batas tidak tegas.
  5. Sulit digerakkan terhadap jaringan sekitar.
  6. Kadang nyeri apabila ditekan.
  7. Ada ruam, nipple discharge, nipple retraksi.

Diagnosis tumor payudara

Diagnosis tumor pada payudara dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik dasar dan pemeriksaan penunjang. Sedangkan diagnosis pasti dilakukan pemeriksaan histopalogi anatomi. Diagnosis dini suatu tumor payudara akan meningkatkan angka kesembuhan dan menurunkan angka mortalitas serta morbiditas.

Anamnesis yang dilakukan meliputi :

  1. Riwayat timbulnya.
  2. Adanya faktor risiko.
  3. Adanya tanda penyebaran tumor.

Pemeriksaan fisik dilakukan :

  1. Oleh dokter saat pasien berobat.
  2. Atau oleh pasien sendiri saat melakukan pemeriksaan payudara sendiri di rumah yang dikenal dengan istilah SADARI.

Adapun langkah pemeriksaannya adalah:

  1. Menghadap cermin dengan posisi berdiri atau duduk.
  2. Memperhatikan apakah bentuk kedua payudara asimetris atau tidak, ada kerutan pada kulit payudara dan puting yang masuk/tertarik kedalam.
  3. Angkat lengan lurus melewati kepala atau lakukan gerakan bertolak pinggang untuk mengkontraksikan otot dada agar memperjelas kerutan pada kulit payudara.
  4. Sembari duduk/berdiri, rabalah payudara dengan tangan sebelahnya.
  5. Selanjutnya sembari tidur, dan kembali meraba payudara dan ketiak.
  6. Terakhir tekan puting untuk melihat apakah ada cairan yang keluar.

Untuk pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan :

  1. Ultrasonografi (USG) payudara.
  2. Mammografi .
  3. Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Untuk pemeriksaan histopatologi anatomi dapat dilakukan beberapa cara yaitu :

  1. Aspirasi biopsi (FNAB)
  2. Core biopsi
  3. Insisi biopsi
  4. Eksisi biospi

Tatalaksana tumor payudara :

Untuk tatalaksana sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan atau operasi baik untuk yang jinak maupun yang ganas. Untuk kondisi tertentu tumor ganas payudara juga akan dilakukan tindakan lain berupa radiasi dan kemoterapi sebagai penanganan yang lebih lengkap dan komprehensif.

Narasumber: dr. Eko Hamidianto, SpB

(Dokter Spesialis Bedah Umum RS Awal Bros Pekanbaru)

Bagikan ke :