Terapi Gelombang Kejut Shock Wave Therapy (ESWT)

Apa itu Terapi Gelombang Kejut? Terapi gelombang kejut (shockwave) adalah prosedur non-invasif yang menggunakan gelombang kejut bertekanan tinggi yang ditransmisikan melalui jaringan pada daerah yang sakit dan juga meningkatkan kesembuhan jaringan lunak yang sakit. ESWT mengefektifkan mekanisme penghambat nyeri tubuh untuk menyembuhkan bagian yang sakit. Setelah itu tubuh akan mengeluarkan endorfin yang dikenal sebagai hormon pemberi rasa rileks dan dapat menghambat timbulnya kembali rasa nyeri serta melancarkan peredaran darah.

Siapa yang Perlu Menjalani Terapi Gelombang Kejut dan Hasil yang Diharapkan

ESWT digunakan untuk mengobati berbagai jenis nyeri muskuloskeletal, penyakit, dan gangguan kesehatan, terutama yang menyerang jaringan ikat di tulang. Terapi ini merupakan pilihan pengobatan lanjutan yang akan dipertimbangkan bila pengobatan konservatif  tidak dapat mengatasi nyeri pasien. Pengobatan konservatif misalnya istirahat, terapi es, obat pereda nyeri, suntik steroid, dan fisioterapi.
Walaupun umumnya aman, namun terapi gelombang kejut tidak disarankan bagi:
  1. Anak
  2. Wanita hamil
  3. Pasien yang mengonsumsi obat untuk menghambat pembekuan darah (antikoagulan) dan obat antiplatetet
  4. Pasien yang memiliki tumor tulang dan masalah metabolisme tulang tertentu
  5. Pasien pengidap kelainan saraf dan sirkulasi
  6. Pasien yang memakai alat pacu jantungatau implan alat bantu lainnya
  7. Pasien yang terkena infeksi pada kaki
  8. Pasien yang telah disuntik steroid dalam tiga bulan terakhir

Masalah Kesehatan yang Membutuhkan Terapi Gelombang Kejut Menurut Dokter Rumah Sakit Awal Bros

  1. Plantar fasciitis atau fasciosis. Kondisi yang ditandai dengan nyeri tajam di tumit karena peradangan plantar fascia, yang menghubungkan tulang dengan jari kaki.
  2. Tendonitis Achilles. Kondisi yang disebabkan oleh tendon Achilles yang terlalu sering digunakan. Tendon ini terletak di antara otot betis dan bagian belakang kaki bawah.
  3. Kalsifikasi tendonitis. Nyeri akibat penumpukan kalsium di tendon, yang menimbulkan tekanan dan iritasi
  4. Epikondilitis lateral atau tennis elbow. Kondisi yang ditandai dengan peradangan dan nyeri pada tendon di siku akibat penggunaan berlebih dari otot lengan bawah, lengan, dan tangan.
  5. Morton neuroma. Nyeri pada tumit karena penebalan jaringan ikat di sekitar saraf di antara bagian bawah jari kaki (umum ditemukan pada wanita, biasanya karena sering memakai sepatu hak tinggi atau ketat)
  6. Taji tumit. Nyeri akibat deposit kalsium menonjol di bagian bawah tulang tumit.

Cara Kerja Terapi Gelombang Kejut

Setelah rekam medis pasien diperiksa, prosedur akan dimulai dengan menandai area tubuh yang sakit dan memicu nyeri. Lalu, gel khusus dioleskan di bagian-bagian tersebut. Alat genggam ESWT diatur posisinya untuk memancarkan gelombang kejut di area sasaran terapi. Alat ini akan menghantarkan tekanan udara secara perlahan melalui gel ultrasonik. Prosedur ini membutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Selama prosedur, pasien biasanya merasakan sedikit nyeri. Saat gelombang kejut dipancarkan, spesialis ortopedi dapat mengubah kekuatan gelombang kejut agar pasie tidak terlalu kesakitan. Denyut energi dari gelombang kejut yang dimasukkan ke tubuh akan menirukan proses penyembuhan alami tubuh, sehingga prosedur ini sangat efektif untuk memicu penyembuhan.
Setelah prosedur selesai, pasien biasanya dapat berdiri dan berjalan seperti biasa. Obat pereda nyeri, obat anti-peradangan, atau terapi es tidak disarankan karena dapat menghambat proses penyembuhan. Pasien dapat langsung melakukan aktivitas sehari-hari, namun harus menghindari aktivitas berat selama 48 jam.
Kebanyakan pasien mengalami peningkatan signifikan setelah satu sesi saja. Terapi ini memiliki tingkat keberhasilan sekitar 80%,  yang meningkat hingga 90% pada sesi kedua.

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Terapi Gelombang Kejut

Dengan terapi gelombang kejut, pasien tidak akan memerlukan pembedahan, obat bius, atau obat-obat lainnya. Maka dari itu, prosedur ini tidak memiliki efek samping, jika dipersiapkan dengan baik. Namun, beberapa pasien mengaku merasakan sensasi gatal, hipersensitif, bercak merah, memar atau pembengkakan, mati rasa, dan kulit terasa hangat – yang semuanya hilang dalam beberapa hari.

Narasumber:
Dr. Deasy Erika , SpKFR
Ilustrasi gambar oleh Fokus Helse & Trening
Artikel terkait:
Bagikan ke :