Periksa Gigi Anak Sedari Dini

Kesehatan gigi dan mulut sangat penting sejak masa kanak-kanak hingga sepanjang hidup. Tidak hanya dokter gigi, orang tua juga punya peran penting dengan menularkan kebiasaan baik untuk pertumbuhan gigi anak. Oleh sebab itu, lebih dini lebih baik dalam membawa anak ke dokter gigi.

Tips Membawa Anak ke Dokter Gigi: Buat Pengalaman Menyenangkan

Dokter spesialis gigi anak Rumah Sakit Awal Bros Batam drg. Rosdiana, SpKGA mengatakan, pertama kali membawa anak ke dokter gigi sebaiknya dilakukan sedini mungkin atau enam bulan setelah gigi pertama anak baru muncul. Kunjungan pertama anak, dokter gigi akan memeriksa pertumbuhan dan perkembangan gigi dan rongga mulut anak termasuk rahang.

“Selain itu, dokter gigi juga akan memberi tahu orangtua tentang bagaimana cara merawat gigi anak. Setelah kunjungan pertama dilakukan, sebaiknya jadwalkan kunjungan lagi minimal setiap enam bulan,” ujar drg. Rosdiana.

Banyak anak takut jika dibawa oleh orang tuanya untuk control ke dokter gigi. Oleh karena itu, penting untuk memperkenalkan anak ke dokter gigi sedini mungkin. Kunjungan pertama anak ke dokter gigi merupakan satu hal yang penting. Apabila pengalaman pertama kunjungan anak ke dokter gigi menyenangkan akan terjadi hubungan baik antara anak sebagai pasien dengan dokter gigi.

“Pengalaman pertama anak dengan dokter gigi pada umumnya akan membentuk perilaku anak terhadap kunjungan berikutnya. Komunikasi yang baik antara dokter gigi, anak dan orangtua merupakan langkah awal keberhasilan perawatan gigi anak,” jelasnya.

Anak yang mengalami pengalaman bururk saat kunjungan ke klinik gigi akan mengalami ketakutan pada kunjungan berikutnya, hal ini merupakan respons umum. Dokter gigi akan melakukan beberapa cara untuk mengatasi masalah ini. Perilaku anak bersifat individual, artinya perilaku anak tidak ada yang sama antara yang satu dengan yang lain. Perawatan gigi anak perlu dilakukan pendekatan untuk membentuk perilaku anak yang bersikap positif terhadap prosedur perawatan gigi.

Tips Membawa Anak ke Dokter Gigi: Pengenalan Perawatan Gigi

Dalam menghadapi pasien anak, dokter gigi perlu mengenali kekhususan anak baik dari segi kecerdasan, minat, kebutuhan maupun keadaan emosinya. Perawatan kesehatan gigi anak tidak hanya membutuhkan arahan dan petunjuk yang merangsang otaknya, tetapi juga perlu sentuhan yang mengembangkan emosi anak. Hubungan emosional yang hangat antara anak dan dokter gigi akan memperlancar proses perawatan.

Ada kalanya kunjungan pertama ini hanya sebagai masa orientasi anak terhadap suasana klinik, dokter gigi, dan perawat. Biasanya dibuthkan kesabaran lebih dari orang tua maupun dokter yang merawat karena mungkin saja anak tiba-tiba merasa cemas dan takut memasuki lingkungan yang baru. “Waktu yang terbaik untuk melakukan kunjungan ini adalah saat anak dalam keadaan masih fresh. Sebaiknya jangan menjadwalkan kunjungan saat anak merasa capek dan lapar karena hal ini dapat membuat ia lebih cemas dan rewel. Untuk anak dengan usia di bawah 3 tahun, orang tua diperkenankan untuk memangku anak di dental unit selama pemeriksaan dilakukan,” terang drg. Rosdiana.

Menyikat gigi merupakan salah satu cara untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut, karena dapat mengurangi plak pada permukaan gigi. Kejadian gigi berlubang dapat dikurangi dengan menyikat gigi. Sebagaian orang tua sampai saat ini masih beranggapan bahwa gigi susu tidak terlalu penting karena gigi susu nantinya akan tanggal atau lepas sendiri dan akan digantikan dengan gigi permanen baru. Hal ini mengakibatkan banyak orang tua kurang memperhatikan kondisi kesehatan gigi dan mulut anak anaknya. Banyak terjadi orangtua membawa anak anaknya ke dokter gigi saat gigi sudah berlubang parah dan anak mengeluh kesakitan bengkak atau karena trauma pada gigi.

Peran Orang Tua dalam Membawa Anak ke Dokter Gigi Menurut Dokter Rumah Sakit Awal Bros

Kembali seberapa penting peran orangtua dalam perawatan gigi anak. Dokter Rosdiana menuturkan orangtua menjadi sumber informasi dan dapat memberikan dorongan kepada anak agar komunikasi dapat berjalan dengan lancar selama proses perawatan gigi di klinik atau rumah sakit.

Secara umum ibu memiliki pengaruh penting. Perilaku sehat orangtua mempengaruhi kesehatan gigi dan gusi anaknya. Anak dengan lubang gigi yang banyak biasanya memiliki orangtua dengan lubang gigi yang banyak juga. “Penularan atau transmisi bakteri penyebab gigi berlubang dapat terjadi dari kontak langsung antara ibu dan anak atau pengasuh yang memiliki gigi berlubang,” tutupnya.

Artikel terkait: 

Ilustrasi gambar oleh freepik.

Bagikan ke :