Mengenal Penyakit Spondilosis dan Penyebabnya

Bila Anda mengalami nyeri atau sakit pada tulang belakang, hal tersebut perlu diwaspadai. Bisa saja Anda mengalami penyakit spondilosis yang pada umumnya menyerang lansia tapi bisa terjadi juga disegala usia. Apa itu penyakit spondilosis? Menurut dr. Jainal Arifin, Sp.OT-K (Spine), M.Kes selaku Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi dengan Subspesialisasi Tulang Belakang dari Rumah Sakit Awal Bros Makassar, Spondilosis merupakan sebuah fenomena penuaan  pada tulang dan ligamen di tulang belakang.

Penyakit spondilosis dapat berupa tonjolan tulang (taji, spur, atau osteofit), seiring bertambahnya usia. Selain itu bisa juga muncul masalah pada disk intervertebralis. Disk invertebralis adalah struktur yang terletak di antara dua tulang belakang berturut-turut dari kolom. Bentuknya menyerupai pad dan bertindak sebagai peredam kejut selama gerakan seperti berjalan, melompat. Pada spondilosis, disk invertebralis mengalami degenerasi dan melemah, kemudian dapat menyebabkan herniasi dan penonjolan disk. “Spondilosis pada umumnya sering terjadi. Gejala ini sering kali dilaporkan antara usia 20 dan 50 tahun. Lebih dari 80% orang di atas usia 40 tahun memiliki bukti spondilosis pada studi X-ray. Tingkat di mana spondilosis terjadi sebagian terkait dengan kecenderungan genetik serta riwayat cedera,” ujar dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi dengan subspesialis tulang belakang tersebut.

Penyebab Penyakit Spondilosis

Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi dengan Subspesialisasi Tulang Belakang dari Rumah Sakit Awal Bros Makassar, dr. Jainal Arifin, Sp.OT-K (Spine), M.Kes menjelaskan bahwa untuk lebih memahami penyebab spondilosis, ada baiknya untuk mengetahui sedikit lebih lanjut tentang struktur tulang belakang. Tulang belakang itu terdiri dari tulang (leher, punggung tengah dan punggung bawah), disk, otot, dan saraf. Struktur tulang belakang berbentuk seperti tabung guna melindungi saraf.

Tulang belakang ini ditopang dan diberi bantalan oleh disk yang terdiri dari gel dan air yang kuat dan fleksibel. Seiring bertambahnya usia, disk mengalami dehidrasi kemudian menjadi lebih tipis dan menjadi keras. Selanjutnya keadaan tersebut memberikan sedikit topangan pada tulang belakang yang bertumpu pada disk. Tubuh ini akan mengimbanginya dengan memproduksi benjolan kecil tulang tambahan untuk menopang tulang belakang dan membuat tulang belakang menjadi kaku. Tulang tambahan dikenal sebagai taji tulang atau osteofit. Osteofit dapat menyebabkan tulang belakang menjadi terlalu kaku sehingga gejalanya berupa kaku dan nyeri. “Perubahan struktur tulang juga dapat menekan saraf dan di sekitarnya, yang menyebabkan gejala nyeri yang lebih luas,” jelas dr. Jainal Arifin, SpOT-K (Spine) M.Kes.

Narasumber:
dr. Jainal Arifin, SpOT-K (Spine) M.Kes
Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Subspesialisasi Tulang Belakang Rumah Sakit Awal Bros Makassar

Ilustrasi gambar oleh Joyce McCown

Artikel terkait:

Bagikan ke :