Berteman Dengan Asma

Asma merupakan suatu keadaan yang tidak perlu dihadapai secara panik atau penuh kekhawatiran. Asma bukan suau keadaan yang harus dihadapi dengan penderitaan. Seseorang yang mengidap asm alebih tepat disebut penyadang asma, bukan penderita asma, karena bila asma bisa dikendalikan dengan baik tidak ayal lagi penyandang asma bagaikan orang normal saja.

 

Penyakit asma ini bisa dialami oleh siapa aja baik usia muda hingga tua. Menurut dr. Abdul Malik Sp.P, dokter spesialis paru (Pulmonologist) RS Awal Bros Batam, ada sejumlah faktor yang bisa memicu kekambuhan asma. Di antaranya alergi debu, asap rokok, bulu binatang, aktivitas fisik, udara dingin, dan infeksi virus. Dan beberapa kasus disebabkan oleh faktor keturunan.

 

Apakah Asma itu?

Hingga kini masih terbatas pengetahuan tentang bagaimana asma bisa terjadi. Tetapi telah banyak dipahami bahwa asma merupakan suatu kondisi peradangan menahun saluran nafas yang menyebabkan saluran tersebut menjadi sensitive (hipersensitif) terhadap berbagai rangsangan baik dari dalam maupun dari luar. Respons yang muncul berpa penyempitan pipa saluran napas akibat radang, pembengkakan, spasme otot dan berlendir, sehingga disarankan sebagai sesak, napas berbunyi mencicit atau napas berat.

 

Rangsangan Pemicu Asma

Penyandang asma perlu mengenali jenis – jenis rangsangan yang selama ini menimbulkan kekambuhan asmanya dan berupaya sebisa mungkin untuk menghindarinya. Secara garis besar rangsangan pemicu asma dapat digolongkan menjadi allergen dan bukan allergen. Alergen adalah sejenis protein yang banyak didapati dilingkungan kita seperti produk – produk binatang piaraan (kuncing, anjing) tungau, debu, kecoa, karpet berbulu, jamur, serbuk bunga dan lain – lain. Sedangkan rangsangan bukan alergen seperti polusi udara gas buang mobil, asap rokok, asap kabut, semprotan aerosol, bau – bauan yang menyengat (parfum, obat nyamuk), infeksi saluran napas, ekspresi emosi yang berlebihan, dan lain – lain.

 

Untuk mengendalikan asma secara optimal diperlukan kerja sama yang baik antara penyandang asma dengan dokter. Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan seperti anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, rontgen paru, uji fungsi paru (spirometri), serta pemeriksaan lain yang dianggap perlu. Dari hasil terseut akan ditentukan derajat berat asma serta langkah – langkah pengobatan dan pengendaliannya.

 

Beberapa hal perlu diperhatikan dalam penatalaksanaan asma agar dapat dikendalikan secara optimal sehingga dampak yang ditimbulkan minimal sedangkan kualitas hidup bisa maksimal

  1. Penting bagi penyandang asma meningkatkan kebugaran fisik, seperti senam asma, renang atau jalan kaki
  2. Hindari kebiasaan merokok baik aktif maupun pasif
  3. Hindari lingkungan yang bisa memicu serangan asma
  4. Terapi obat – obatan merupakan bagian dari penanganan asma. Dokter akan memberikan obat – obatan berdasarkan derajat berat asmanya. Secara umum pengobatan terbagi menjadi pengobatan jangka pendek untuk serangan asma akut (reliever) dan pengobatan jangka panjang untuk pengendalian (controller)

 

Tujuan yang harus dicapai oleh pasien dan dokter dalam penanganan asma adalah tercapainya “total control” yang berarti :

  • Tidak ada gejala asma
  • Tidak ada gejala malam hari
  • Tidak ada penggunaan obat pelega
  • Fungsi paru normal (Pemeriksaan spirometry)
  • Tidak ada eksaserbasi (kekumatan)
  • Tidak ada efek samping obat

 

dr. Abdul Malik, SpP

Bagikan ke :