Kenali Jenis Anemia dan Pemeriksaan Laboratoriumnya

Anemia atau yang secara awam dikenal dengan kurang darah, merupakan suatu keadaan dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin (Hb) di dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh sehingga kebutuhan oksigen jaringan tidak terpenuhi.

Apa gejala Anemia?

Gejala anemia bergantung pada derajat dan kecepatan terjadinya anemia. Gejala kurang darah muncul sebagai akibat berkurangnya pasokan oksigen ke jaringan sehingga gejala anemia dapat muncul pada berbagai sistem/organ di dalam tubuh. Gejala utamanya adalah pucat, lesu, lemah, kram otot, sesak pada saat beraktifitas, jantung berdebar dan pusing. Pada anemia berat atau anemia yang disebabkan oleh perdarahan akut, gejala yang terjadi dapat lebih berat dan mengancam jiwa seperti penurunan kesadaran, gangguan irama jantung, gagal jantung dan kematian.

Kurang darah bukan penyakit, tetapi merupakan gejala/tanda adanya suatu penyakit atau kelainan yang harus dicari penyebabnya. Oleh karena anemia merupakan gejala, maka penyebab utama atau penyebab yang mendasarinya harus dicari sehingga gejala dan penyebab anemia tersebut dapat segera tertangani.

Penyebab Anemia

  1. Kehilangan darah
    Perdarahan yang dapat mengakibatkan anemia bisa berupa mimisan, batuk darak, BAB berdarah, gusi berdarah, menstruasi yang banyak dan lama, BAK berdarah dan perdarahan di kulit seperti lebam-lebam di kulit. Perdarahan yang lama biasanya menimbulkan anemia defisiensi besi.
  2. Berkurangnya produksi sel darah merah di sumsum tulang
    Produksi sel darah di sumsum tulang tergantung kepada sumsum tulang yang berfungsi dengan baik, ketersediaan bahan-bahan/nutrisi yang diperlukan untuk pembentukan sel darah seperti protein, vitamin B12, asam folat dan zat besi, ketersediaan hormon yang cukup untuk produksi sel darah merah (hormon eritropioetin, hormon tiroid) serta  tergantung pada kemampuan tubuh untuk membentuk hemoglobin yang normal. Apabila terjadi gangguan pada sumsum tulang seperti pada anemia aplastik, leukemia dan penyebaran sel tumor ganas ke sumsum tulang maka terjadi penurunan produksi sel darah merah di sumsum tulang sehingga terjadi anemia.
  3. Meningkatnya destruksi/pemecahan sel darah merah (anemia hemolitik)
    Dalam keadaan normal sel  darah merah berumur 120 hari setelah dibentuk di sumsum tulang, setelah berumur 120 hari sel darah merah akan dihancurkan di limpa dan di hati. Pada penyakit tertentu seperti pada infeksi malaria, pada penyakit talasemia atau karena obat tertentu sel darah merah dihancurkan  lebih cepat dari seharusnya sehingga keadaan ini menimbulkan anemia yang disebut dengan anemia hemolitik. Anemia hemolitik juga dapat terjadi akibat penyakit autoimun seperti pada penyakit lupus yang diderita oleh seorang pasien.

Jenis-jenis Anemia berdasarkan penyebabnya

Berdasarkan penyebab anemia, maka anemia dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu; anemia akibat perdarahan, anemia gizi (anemia defisiensi besi, anemia defisiensi asam folat dan vitamin B12), anemia pada penyakit kronik (anemia pada infeksi HIV, pada penyakit rematik, anemia pada keganasan dan lain-lain), anemia akibat kegagalan produksi sel darah merah di sumsum tulang.

Anemia yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah anemia defisiensi besi, diikuti oleh anemia pada penyakit kronis. Pada anemia defisiensi besi terdapat penurunan zat besi yang dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin. Anemia pada penyakit kronik terjadi gangguan dalam penggunaan zat besi untuk pembentukan hemoglobin. Pada penyakit/radang kronik zat besi di dalam tubuh tidak dapat digunakan karena proses radang yang terjadi menghambat penggunaan zat besi untuk membentuk hemoglobin. Karena penyebab utamanya adalah radang maka anemia ini dapat terjadi pada siapa saja yang mengalami penyakit/peradangan.

Siapa sajakah yang paling berisiko terkena Anemia?

Anemia dapat terjadi pada semua usia, jenis kelamin dan ras/etnis. Wanita usia subur dan wanita hamil memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami anemia. Bayi dan anak-anak usia pertumbuhan juga memiliki risiko tinggi mengalami anemia terutama anemia gizi akibat kekurangan zat besi.

Faktor penyebab Anemia

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko anemia pada seseorang meliputi:

  • Diet/makanan yang tidak seimbang (rendah zat besi, vitamin B12 dan asam folat)
  • Menderita gangguan pencernaan yang menyebabkan gangguan penyerapan zat gizi dari makanan.
  • Kehilangan darah akibat operasi, cedera/kecelakaan, perdarahan melalui kulit, mukosa, saluran cerna, saluran  kemih dan perdarahan dari alat genital
  • Menderita penyakit infeksi/ radang kronik, seperti penyakit ginjal, kanker, diabetes, penyakit rematik, infeksi HIV / AIDS, lupus, penyakit radang usus, penyakit hati, penyakit jantung, penyakit tiroid/gondok, menderita keganasan/kanker baik kanker darah atau kanker lain.
  • Memiliki riwayat keluarga yang menderita anemia akibat kelainan genetik seperti talasemia.

Akibat atau Bahaya Anemia

Beberapa akibat yang dapat terjadi pada penderita anemia adalah sebagai berikut :

  1. Akibat pada sistem saraf
    Anemia menimbulkan rasa pusing, sakit kepala, gangguan keseimbangan, rasa kesemutan, dan pada anemia yang berat dapat menimbulkan penurunan kesadaran sampai terjadi kematian.
  2. Akibat pada sistem jantung dan pembuluh
    Anemia menyebabkan hipotensi postural, denyut nadi meningkat lebih cepat dan pada keadaan anemia berat dapat menimbulkan gagal jantung
  3. Akibat pada sistem pernafasan
    Anemia menyebabkan sesak baik pada waktu beraktifitas, dan pada keadan anemia berat sesak juga dapat timbul pada saat istirahat
  4. Akibat pada sistem pencernaan
    Anemia dapat memberikan gejala gangguan saluran cerna seperti mual dan muntah
  5. Akibat pada sistem otot
    Anemia menyebabkan rasa lemah, lelah, letih, lesu serta kram otot karena gangguan pasokan oksigen ke otot. Hal ini membuat kita seakan tidak mampu atau tidak bersemangat untuk melakukan berbagai aktivitas, termasuk melakukan pekerjaan yang ringan
  6. Akibat pada kuku dan kulit
    Anemia dapat menyebabkan kulit menjadi pucat dan kuku menjadi rapuh
  7. Akibat pada sistem kekebalan tubuh
    Anemia menurunkan daya tahan tubuh sehingga seorang penderita anemia juga cenderung lebih sering menderita infeksi dibandingkan orang normal

Penanganan Anemia

Anemia bukan suatu penyakit tersendiri, tapi biasanya merupakan gejala dari suatu penyakit utama yang mendasarinya. Oleh karena itu, pada seseorang yang mengalami anemia harus ditemukan penyebab anemianya sehingga pengobatan yang diberikan tidak ditujukan pada anemianya saja tetapi juga pada penyakit yang mendasarinya. Untuk menegakkan diagnosis anemia dan mencari penyebab anemia, maka pada seorang pasien harus dilakukan 3 tahapan yaitu :

  1. Anamnesis/ mencari riwayat penyakit, meliputi evaluasi gejala yang dirasakan oleh penderita dan pertanyaan-pertanyaan untuk mencari penyebab anemia, seperti apakah penderita mengalami perdarahan saat ini atau sebelumnya. Apakah didapatkan adanya bukti peningkatan destruksi/pemecahan sel darah merah. Apakah terdapat riwayat keluarga yang menderita anemia atau kelainan darah, riwayat penggunaaan obat-obatan yang dapat menyebabkan anemia, apakah terdapat tanda tanda gangguan pada sumsum tulang, apakah ada riwayat diet yang tidak seimbang (status nutrisi),  riwayat transfusi, suku bangsa, umur pada saat timbulnya gejala anemia, riwayat penyakit/kelainan yang dapat menyebabkan anemia seperti riwayat kelainan hati, ginjal, kelenjar gondok, infeksi atau radang kronis  dan lain-lain.
  2. Pemeriksaan fisik. Tujuan utamanya adalah menemukan tanda keterlibatan organ atau multisistem dan untuk menilai beratnya kondisi penderita. Pada pemeriksaan fisik/tubuh pasien dicari tanda-tanda adanya anemia dan kemungkinan penyebab anemia. Pemeriksaan dilakukan menyeluruh dari kepala sampai ke kaki. Pada beberapa anemia terdapat kelainan khas anemia seperti konjuctiva mata, kulit/mukosa terlihat pucat, denyut nadi meningkat, sesak, kelainan lidah, kelainan pada kuku, kelainan pada hati, kelainan ginjal, kelainan limpa, kelainan pada kelenjar getah bening, kelainan kuku dan kelainan pada tulang.
  3. Pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium pada orang dengan gejala dan tanda anemia. Pemeriksaan laboratorium ini berguna untuk menentukan ada atau tidaknya anemia (menegakkan diagnosis anemia), mencari penyebab anemia dan untuk memantau keberhasilan pengobatan (respon terapui) pada penderita anemia.

Pengobatan dan Pencegahan Anemia

Pengobatan anemia sesuai dengan penyebab anemia, namun pada kasus anemia berat dapat dilakukan transfusi darah. Pada anemia yang terjadi akibat kekurangan zat gizi seperti kekurangan zat besi maka diberikan suplemen besi. Pada anemia yang disebabkan penyakit kronik atau pada keganasan, dilakukan pengobatan terhadap penyakit/radang/keganasan yang mendasari terjadinya anemia. Anemia yang terjadi akibat kelainan genetik yang diturunkan seperti talasemia perlu dilakukan pemeriksaan pada semua anggota keluarga dan kedua orang tua.

Salah satu upaya pencegahan anemia adalah dengan melakukan pemeriksaan darah secara berkala di laboratorium sehingga dapat diketahui adanya anemia atau adanya penyakit yang berisiko untuk terjadinya anemia sedini mungkin. Pencegahan anemia gizi dilakukan dengan menjaga diet yang seimbang atau mengkonsumsi suplemen sesuai petunjuk dokter sehingga kebutuhan tubuh terhadap semua zat gizi yang diperlukan dalam pembentukan sel darah merah terpenuhi. Selain itu bagi penderita penyakit infeksi atau radang kronik agar melakukan pengobatan secara teratur sehingga anemia akibat penyakit kronik yang dideritanya dapat teratasi. Pencegahan anemia yang diwariskan seperti anemia pada talasemia dilakukan dengan melakukan pemeriksaan darah pra nikah sehingga kemungkinan mendapatkan keturunan yang menderita talasemia dapat dicegah.

 

Narasumber :

dr. Fatmawati. SpPK

Dokter Spesialis Patologi Klinik RS Awal Bros Pekanbaru

Ilustrasi Gambar:katemangostar / Freepik

Bagikan ke :