Donor Hati

Donor hati atau menyumbangkan organ hati untuk orang yang mengalami sakit dengan kondisi khusus sangatlah diperlukan dan merupakan perbuatan terpuji. Donor hati ini tidak hanya bisa dilakukan dari mayat atau orang yang sudah meninggal namun masih memiliki fungsi organ hati yang baik, namun dapat dilakukan oleh orang yang masih hidup dan memiliki fungsi organ hati yang baik.

Dr. Barry A. Putra, Sp.PD selaku Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Timur menjelaskan bahwa pasien yang berhak memperoleh donor hati ini adalah pasien dengan penyakit hati kronis atau dalam bahasa medis disebut sebagai sirosis hati / End Stage Liver Disease (ESLD). Tindakan operasi untuk mengganti hati yang rusak dengan hati yang sehat, baik hati yang berasal dari donor kadaver (mayat) maupun donor hidup (living donor) atau biasa disebut transplantasi hati ini memiliki prosedur yang sangat ketat. “Donor hati direkomendasikan sebagai satu-satunya terapi definitif pada pasien dengan sirosis hati (ESLD),” ujar Dokter Barry.

Hati berfungsi sebagai penahan racun didalam tubuh kita, maka menjaga kesehatan hati perlu dilakukan. Bila kita mengalami gejala seperti hilangnya nafsu makan, mudah lelah, mual dan muntah, kulit menjadi kekuningan, warna urin menjadi gelap, sering nyeri perut dan pembesaran pada perut, mudah memar serta kerap bengkak pada tungkai kaki maka hendaknya diwaspadai. “Untuk mengetahui penyakit hati bisa terevaluasi dari pemeriksaan SGOT dan SGPT,”tandasnya.

Syarat untuk melakukan donor hati (Transplantasi Hati)

Bila pendonor hati termasuk living donor maka biasanya hati yang diambil tidak lebih dari 60%. Hati yang tersisa tersebut akan melakukan regenerasi untuk menganti sel-sel yang rusak. Biasanya regenerasi tersebut bisa berlangsung hingga 2 tahun. Untuk itu, para pendonor hati tidak perlu khawatir selama syarat dalam mendonor hati terpenuhi seperti sehat dan compatibel dengan si penerima donor hati. Syarat mendonor hati diantaranya:

  • Tidak dengan paksaan
  • Kondisi psikologis yang baik
  • Kondisi kesehatan yang stabil
  • Tidak memiliki riwayat penyakit seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, diabetes, kanker dan HIV
  • Memiliki golongan darah dan tipe jaringan yang sama

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Timur, Dr. Barry A. Putra, Sp.PD mengatakan bahwa biasanya tidak ada masalah kesehatan yang berarti setelah mendonor hati. “Kalaupun ada efeknya seperti pada umunya operasi, maka efek samping bagi pendonor hati adalah perdarahan saat operasi dan nyeri pasca operasi. Sementara efek samping terberat bagi penerima donor adalah reaksi penolakan organ transplan,” tutup Dokter Barry.

Ilustrasi Gambar: Matheus Ferrero

Bagikan ke :