Lupus, Si Pembunuh Diam–diam

Di dunia kesehatan, lupus adalah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Penyakit ini dianggap setara dengan kanker, karena mematikan. Penyanyi cantik Selena Gomez diketahui menderita penyakit lupus. Dia didiagnosa lupus nefritis sekitar tiga tahun lalu. Akibatnya, ia harus melakukan transplantasi ginjal. Ia diketahui juga mengalami arthritis atau peradangan sendi.

Lupus merupakan penyakit autoimun. Kondisi saat sistem imun atau kekebalan tubuh seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan substansi asing dengan sel jaringan tubuh sendiri. Kondisi ini membuat sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh yang sehat, seperti jantung, ginjal, paru–paru, kulit, serta otak.

“Lupus tidak menular tapi mengancam jiwa, bisa juga disebut silent killer,” kata Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Arif Koswandi, SpPD-KGEH. Spesialis penyakit dalam tersebut mengatakan, penyakit ini termasuk kategori penyakit langka, namun siapa saja bisa terkena. Kejadiannya 20 hingga 30 orang per 1.000 penduduk. Sebagian besar diderita oleh wanita, dengan perbandingan 9 wanita dengan 1 pria, sedangkan kelompok usia yang sering terkena adalah usia 15 hingga 45 tahun. “Penyebab pasti lupus belum diketahui. Diduga faktor genetik atau dicetuskan oleh infeksi, stress, pancaran sinar matahari, dan obat obatan,” kata dokter Arif spesialis penyakit dalam.

Salah satu jenis lupus yang paling sering terjadi adalah Lupus Eritematousus Seismetik (SLE) yang dikenal sebagai penyakit seribu wajah. Karena SLE memiliki tampilan penyakit beragam dan mirip dengan penyakit lain, seringkali menimbulkan kekeliruan dalam menganalisanya. SLE gejalanya mirip dengan penyakit lain sehingga sulit dideteksi. Tingkat keparahannya beragam mulai dari ringan hingga mengancam nyawa. Gejala SLE dapat timbul secara tiba–tiba atau berkembang perlahan. “Pasien SLE dapat mengalami gejala yang bertahan lama atau sakit sementara sebelum akhirnya kambuh lagi,” ujar dokter spesialis penyakit dalam tersebut.

Penderita lupus, kata dokter Arif, mempunyai gejala beragam. Biasanya penderita mengalami keluhan pada kulitnya sehingga berobat ke dokter spesialis kulit. Gejala lupus adalah kulit kemerahan di sekitar hidung dan pipi bercak–bercak merah di bagian wajah atau lengan. “Selain pada kulit, penderita juga merasakan lelah, demam berkepanjangan, rambut rontok, persendian bengkak, dan sariawan, terangnya.

Karena itu, dokter Arif menyarankan agar waspada terhadap kemungkinan lupus. Program SALURI (Periksa Lupus Sendiri) dapat dilakukan di Puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan lain untuk mengenali gejala-gejala tersebut. “Jika mengalami empat gejala dari seluruh gejala yang disebutkan, dianjurkan untuk segera konsultasi dengan dokter di Puskesmas atau Rumah Sakit. Agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut,” ucap dokter Arif.

Hingga saat ini penderita lupus belum dapat disembuhkan total. Pengobatan ditujukan untuk mendapatkan remisi panjang, mengurangi gejala, mencegah kerusakan organ dan memperpanjang harapan hidup. “Pengobatan lupus meliputi obat–obatan dan non-obat yakni memperhatikan diet, makanan sehat, hindari stress fisik maupun psikis, serta olahraga dalam kondisi tidak terpapar sinar matahari. Dukungan dari teman dan keluarga berperan penting dan membantu penderita menghadapi penyakitnya.” Dokter spesialis penyakit dalam tersebut menambahkan.

 

Waspada Gejala Lupus

Jika empat dari gejala ini dialami, maka kunjungilah dokter Anda untuk diperiksa dan ditangani dengan segera.

  1. Sensitif terhadap sinar matahari. Terjadi perubahan warna kulit, timbul kemerahan atau ruam (rash) bila terkena matahari. Di kedua pipi dan hidung seperti gambar kupu–kupu (butterfly rash) dan di kulit lengan.
  2. Sariawan tak kunjung sembuh dan tidak biasa tempatnya. Terutama di atap rongga mulut dan tenggorokan.
  3. Nyeri dan bengkak di persendian. Terutama di lengan tungkai. Serta menyerang lebih dari dua sendi (artristis).
  4. Nyeri dada. Terutama saat berbaring dan menarik napas panjang karena peradangan di paru–paru dan jantung.
  5. Kejang atau kelainan saraf.
  6. Kelainan saat pemeriksaan di laboratorium, kurang darah (anemia), jumlah sel darah putih rendah, jumlah sel pembekuan darah (trombosit) rendah.
  7. Kelainan hasil pemeriksaan ginjal. Ada kelainan pemeriksaan di urine protein.

 

 

Diterbitkan oleh Koran Sindo, Health, Rabu 16 Mei 2018, Hal. 16

Bagikan ke :