Mengenal Diabetes Mellitus Tipe 2

Diabetes berkembang jauh lebih cepat daripada yang diantisipasi di Indonesia. Penyakit Diabetes Mellitus ini biasanya dikenal dengan sebutan penyakit gula darah atau kencing manis. Diabetes Mellitus Tipe 2 adalah kondisi dimana insulin tetap diproduksi dalam tubuh namun jumlahnya sangat sedikit dan tidak mencukupi dengan yang dibutuhkan oleh tubuh. Dokter Tolhas Banjarnahor, SpPD, FINASIM – Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Rumah Sakit Awal Bros Tangerang akan menjelaskan tentang Diabetes Mellitus Tipe 2 ini.

Mengapa Seseorang Mengidap Diabetes Mellitus Tipe 2?

Diabetes Mellitus tipe 2 disebut juga dikenal dengan sebutan adult-onset atau diabetes yang tidak bergantung pada insulin (non-insulin-dependent diabetes melitus/NIDDM). Kondisi ini membuat tubuh Anda memiliki insulin yang cukup namun tubuh kehilangan kemampuannya untuk memanfaatkannya dengan benar. Diabetes Melitus tipe 2 ini terjadi karena adanya gangguan pengiriman gula ke sel tubuh akibat produksi pankreas yang tidak mencukupi. Penyebab lainnya adalah sel lemak dan otot tubuh retensi terhadap insulin.

Gejala Diabetes Melitus Tipe 2

Gejala yang biasa muncul adalah

  1. Cepat lelah.
  2. Sering merasa haus.
  3. Penglihatan yang kabur.
  4. Menurunnya berat badan.
  5. Rasa lapar yang bertambah sering.
  6. Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
  7. Luka yang lambat sembuh atau sering mengalami infeksi.

Untuk mendiagnosis penderita Diabetes Mellitus tipe 2 dapat dilakukan tes urine dan tes darah. “Tes darah dapat digunakan untuk mengetahui kadar gula dalam darah. Jika hasilnya kadar gula dalam darah 2 jam sesudah makan lebih dari 200 mg% maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut menderita diabetes. Sebab kadar gula darahnya melebihi batas ambang normal,” ujar dr. Tolhas Banjarnahor, SpPD, FINASIM – Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Rumah Sakit Awal Bros Tangerang.

Prinsip pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe 2 adalah dengan edukasi pasien dalam menjaga diabetes mellitusnya agar tetap normal , melakukan aktifitas fisik (berolahraga), terapi nutrisi medis dan terapi farmakologik. “Pengelolaan diabetes yang optimal memerlukan strategi pencegahan, skrining/penapisan, diagnosis, pengobatan dan edukasi yang tepat dan  sesuai dengan evidence based medicine” tutup dokter spesialis penyakit dalam tersebut.

Periksakan kondisi Anda, kosultasilah dengan dokter spesialis penyakit dalam kami. Jadwal dokter dapat dilihat di sini.

 

Ilustrasi gambar oleh Wei Tang.

Bagikan ke :