Pikun, Bisakah Dihindari?

Penyakit pikun ditandai dengan hilangnya atau menurunnya daya ingat atau kesulitan seseorang untuk memperoleh informasi yang sudah tersimpan di dalam otak. Pikun seringkali dianggap sebagai bagian dari penuaan, padahal  kondisi ini juga dapat merupakan gejala penyakit tertentu yang serius  atau efek samping dari konsumsi obat-obatan.

Apa itu Pikun?

Penyakit pikun atau lebih dikenal dengan sebutan istilah medis demensia merupakan serangkaian gejala, yaitu kehilangan memori, kesulitan berpikir dan pemecahan masalah, fungsi eksekutif hingga fungsi bahasa. Demensia terjadi ketika otak mengalami kerusakan yang disebabkan karena penyakit, seperti penyakit Alzheimer atau pun penyakit lain seperti stroke, trauma kepala, infeksi otak, dll.

Ingatan dapat dipengaruhi oleh proses penuaan. Semakin tua seseorang, berbagai macam proses dan reaksi kimia terjadi pada beberapa organ vital, salah satunya adalah otak. Perubahan ini di sisi lain dapat mempengaruhi bagian pada otak yang bertanggung jawab dengan sistem saraf panca indera dan ingatan. Ini dapat menjelaskan bagaimana orang yang usianya lebih tua akan lebih sulit belajar hal yang baru atau mengingat informasi yang baru.

Jenis-jenis Pikun

Ada beberapa jenis Pikun/demensia yakni demensia kortikal dan demensia subkortikal, tergantung pada bagian otak yang terkena. Demensia kortikal terjadi akibat adanya gangguan pada korteks serebral, yaitu lapisan terluar dari otak yang berperanan penting dalam kemampuan berpikir, termasuk daya ingat dan berbahasa.

Penyakit Alzheimer dan penyakit sapi gila merupakan 2 jenis demensia kortikal. Penderita demensia kortikal mengalami gangguan daya ingat berat yang menyebabkan mereka tidak dapat mengerti dan mengenali bahasa serta kata-kata. Sedangkan demensia subkortikal terjadi akibat disfungsi beberapa bagian otak di bagian bawah korteks. Penderita biasanya tidak menunjukkan gangguan daya ingat dan kesulitan berbahasa. Beberapa contoh demensia subkortikal adalah pada penderita penyakit Parkinson, penyakit Huntington, dan demensia akibat AIDS; yang biasanya mengalami perubahan kecepatan berpikir dan kemampuannya untuk melakukan suatu gerakan atau aktivitas.

Pada demensia multiinfark, terjadi gangguan pada kedua bagian otak, yaitu korteks serebral dan subkortikal. Demensia jenis ini jarang terjadi. Demensia ini memiliki gejala-gejala, untuk itu pasien dan keluarga diharapkan bisa melihat adanya gejala-gejala ini yakni kebiasaan melupakan hal-hal tertentu tidak harus membuat panik seseorang. Pada dasarnya, seseorang perlu berkonsultasi dengan dokter jika kesulitan mengingat ingatan jangka pendek, kesulitan dalam meingingat nama atau mengenali wajah, tersesat di lokasi yang sudah familiar, mengalami kebingungan, kehilangan keahlian secara berangsur-angsur, kesulitan berbicara atau omongan yang terbata-bata, kebiasaan mengulang suatu informasi yang sama berulang-ulang, sering menanyakan pertanyaan yang sama, kesulitan mengikuti arahan, mengalami perubahan kemampuan belajar, mengalami perubahan sikap atau suasana hati yang tiba-tiba, sering salah menyebutkan nama benda (misalnya menyebut piring sebagai sebuah garpu).

Faktor yang mempengaruhi Pikun

  1. Usia lanjut
    Pedang yang sudah usang pasti akan berkarat. Tubuh yang telah menua pasti akan melemah. Otak yang telah mengalami turun mesin pasti akan menjadi usang. Faktor usia tidak dapat dicegah oleh siapapun di dunia ini. Kami melihat bahwa itulah juga yang membatasi dan mengurangi kemampuan produktivitas seseorang. Oleh karena itu, manfaatkan masa mudamu sepositif mungkin agar tidak terbuang sia-sia sebab dimasa tua penurunan fungsi organ (termasuk otak) melemahkan kemampuan total yang dapat direalisasikan/ dikeluarkan.
  1. Kebiasaan yang enggan berfikir (mengosongkan pikiran)
    Pikiran harus senantiasa diasah dengan cara berkonsentrasi pada sesuatu. Terlalu lama membuat pikiran kosong sama saja dengan “menyimpan motor di gudang yang lama-kelamaan akan berkarat dimakan waktu”. Jika pikiran tidak digunakan dalam waktu lama atau tidak sering di asah maka akan menjadi tumpul yang berimbas pada kemampuan memori otak yang menurun.
  1. Makanan yang tidak seimbang
    Asupan makan yang tidak mencukupi akan menyebabkan gizi buruk. Tetapi konsumsi makanan yang tidak seimbang membuat proses pertumbuhan dan perkembangan mengalami kelainan, tidak berimbang bahkan menimbulkan penyakit juga (termasuk gejala pikun). Tahukah anda bahwa cairan otak merupakan salah satu senyawa elektrolit yang mengandung garam isotonik untuk menjaga stabilitasnya.
  1. Penyakit tertentu-alzhaimer.
    Sebelum seorang pasien menderita alzhaimer telah terjadi proses perantara yang kadang tidak disadari dan tidak teramati dengan jelas, yang disebut sebagai kelemahan kognisi ringan (Mild Cognitive Impairment). Pikun alzhaimer menunjukkan beberapa tahapan gejala sebelum menjadi suatu penyakit yang kentara bagi kehidupan seseorang. Awalnya berupa gejala mudah lupa dan cepat lupa yang dapat dijumpai pada lansia (lanjut usia) kemudian berlanjut menjadi pikun yang disebut juga demensia.

Cara mengobati Pikun/Demensia

Pikun adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh para lansia di negara-negara yang sudah mencicipi kemajuan. Dengan beberapa teknik khusus gejala kurang daya ingat dapat dikurangi bahkan ditekan seminimal/sekecil mungkin. Apa saja itu?

  1. Senantiasa memusatkan pikiran kepada Tuhan, beraktivitas dan jangan diam terus seharian, Jika Anda sudah berumur dan anak-anak sudah dewasa sehingga ada kecenderungan tidak ada kerjaan alias diam saja. Karena anak sayang sama orangtuanya maka semua pekerjaan mereka hendle(diselesaikan). Seharian duduk saja sambil menonton televisi jelas tidak baik bagi kesehatan otak. Oleh karena itu, jangan biarkan anak terlalu memanjakan orang tuanya melainkan ambil beberapa pekerjaan ringan untuk diselesaikan sendiri sebab tanpa aktivitas memberi manfaat maka hidup akan menelanmu menjadi seorang penderita pikun akut maupun kronis.
  2. Berkomunikasi dengan sesama. Jumlah kata yang keluar dari mulut Anda ditentukan oleh memori (daya ingat) dan kecerdasan. Jangan menyendiri terus seharian melainkan gunakan beberapa kosa kata positif untuk saling berkomunikasi atau setidaknya saling berbagi informasi dengan sesama manusia. Ramah tamah juga merupakan salah satu indikator kecerdasan intelektual dan emosional seorang manusia. Ingatlah bahwa komunikasi tidak hanya dilakukan secara tatap mata (komunikasi langsung) melainkan dapat juga diungkapkan melalui karya seni (tulisan, pantun, cerpen, cerita, lukisan, patung, ukiran, puisi, lagu, tarian dan lain sebagainya) dan bisa juga melalui teknologi (handphone, telepon, SMS, surei, gadget dan lain-lain).
  3. Belajar seumur hidup. Usia yang terus bertambah bukan berarti menghentikan proses belajar. Sudah lama meninggalkan bangku sekolah bukan berarti anda tidak butuh lagi yang namanya belajar. Oleh karena itu, untuk menepis penyakit pikun, anda harus senantiasa mengaktifkan otak salah satunya dengan belajar. Kitab Suci adalah buku pelajaran seumur hidup yang tidak pernah terabaikan bahkan di usia senja sekalipun. Kami sendiripun masih saja membacanya secara berulang-ulang agar daya ingat tidak mengalami penurunan fungsi. Andapun bisa melakukannya secara rutin atau setidaknya bacalah buku-buku lainnya yang bermanfaat.
  4. Kurangi kejadian stress. Stres adalah masalah hati. Kemampuan anda memanajemen pikiran sangat tergantung pada angka kejadian stres. Bagaimana kami harus mengatakan kepada anda tentang dunia ini? Berusaha semaksimal mungkin, terima hasilnya apa adanya, hindari menolak tekanan (itu sudah sewajarnya, sudah sepantasnya), peduli dan santun/ ramah kepada sesama di saat yang tepat dan acuh tak acuh juga disaat yang tepat.
  5. Komsumsi makanan seimbang. Asupan makanan yang seimbang harus tetap dijaga. Jangan hanya mengkonsumsi lauk pauk dan nasi saja melainkan baik juga untuk selalu mengkonsumsi sayuran.
  6. Konsumsi air putih. Lebih dari separuh bahan penyusun (kandungan) otak adalah air bahkan lingkungan sekitarnya juga mengandung air elektrolit yang disebut sebagai cairan otak. Asupan cairan yang mencukupi turut membantu meningkatkan kinerja berpikir. Bila pikiran kekurangan cairan maka akan terjadilah yang namanya bias berpikir (misalnya gejala fatamorgana di padang gurun). Biasanya untuk orang dewasa jumlah asupan air perhari kurang lebih 2 liter atau setara dengan 8 sampai 10 gelas.
  7. Rutin berolahraga. Anda harus mulai menjadwalkannya setidaknya 15 – 30 menit dalam seminggu. Biasanya semakin banyak jenis aktivitas yang dilakukan maka semakin sehat memori otak. Oleh karena itu silahkan rutin melakukannya atau setidaknya melakukan senam.
  8. Berhenti merokok dan jalani hidup sehat. Rokok dan alkohol sama-sama bahan kimia yang sifatnya keras. Untuk rokok, lebih baik bila anda berhenti sama sekali. Sedangkan untuk alkohol, kenali batasannya (satu gelas sehari), bila berlebihan jelas tidak baik dan memabukkan. Zat-zat kimia yang terkandung didalamnya dapat meningkatkan resiko penyakit pikun (demensia) di masa depan.

Narasumber :

Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru

dr. Andre Lukas, SpS

Ilustrasi gambar: Val Vesa

Bagikan ke :