Diagnosis Penyakit Hematuria atau Kencing Mengandung Darah

Kencing bercampur darah dalam istilah medis dikenal dengan penyakit hematuria. Penyakit tersebut harus diwaspadai karena normalnya kencing kita tidak boleh mengandung sel darah merah. Hal pertama yang harus dilakukan jika mendapati suatu keadaan yang dicurigai sebagai hematuria adalah segera pergi ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Diagnosis penyakit hematuria dapat dilakukan dengan banyak cara. Namun diagnosis penyakit hematuria perlu dikenali lebih dulu penyebabnya.

Dokter akan menentukan apakah ada gejala lain yang mendahului atau menyertai gejala penyakit. Umumnya seorang dokter akan mendasari diagnosis penyakit berdasarkan riwayat medis, pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang tambahan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah dan urine serta ultrasonografi, CT scan, atau MRI saluran kemih.

Diagnosis Penyakit Hematuria dengan Anamnesis atau Wawancara

Dalam menggali suatu penyebab hematuria, biasanya seorang dokter akan melakukan anamnesis atau wawancara medis. Biasanya disingkirkan terlebih dahulu kemungkinan trauma dan infeksi. Setelah itu kemudian dokter akan bertanya mengenai:

  • Bagaimanakah sifat hematuria tersebut apakah hilang timbul ataukah terus menerus,
  • Bagaimana derajat hematuria tersebut, apakah urine disertai gumpalan darah ataupun bekuan darah panjang seperti cacing yang mengindikasikan adanya sumber darah dari saluran kemih atas.
  • Apa saja gejala yang menyertai hematuria tersebut, karena beberapa penyebab seperti adanya batu saluran kemih seringkali memberikan gejala nyeri pinggang maupun perut bawah. Sedangkan penyebab keganasan biasanya disertai dengan penurunan berat badan yang drastis ataupun adanya nyeri pinggang yang persisten.

Lebih spesifik, menurut dokter spesialis urologi di RS Awal Bros Bekasi Utara, dr Regi Septian M.Kes.,SpU, “Pada penyakit hematuria yang disebabkan oleh keganasan (misalnya tumor kandung kemih) akan hilang timbul tetapi seringkali tidak nyeri. Namun, jika sudah terdapat gumpalan darah, maka dapat juga menimbulkan gejala sering berkemih, hingga terjadinya sumbatan kencing. Patut dicurigai juga jika seseorang memiliki riwayat keturunan, kebiasaan merokok, atau berat badan yang menurun secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir,” kata dr Regi.

Sedangkan pada penyebab lain misalnya karena infeksi ataupun batu saluran kemih, biasanya hematuria disertai dengan gejala kencing yang mengganggu. Gejala tersebut misalnya kencing sedikit-sedikit dan sering, terasa panas dan perih, ataupun kumpulan gejala berkemih lainnya yang dinamakan LUTS atau lower urinary tract symptoms. Paparan infeksi lain seperti tuberkulosis, dan parasit lain juga bisa saja menyebabkan gejala serupa (untuk hematuria yang disebabkan oleh batu saluran kemih, akan kita bahas lebih lanjut pada topik tersendiri).

Diagnosis Penyakit Hematuria dengan Pemeriksaan Kesehatan

Selanjutnya dalam mempertajam diagnosis suatu hematuria maka biasanya dokter akan memerlukan pemeriksaan fisik yang mengarah kepada suatu kelainan spesifik dan juga pemeriksaan penunjang seperti:

  • Pemeriksaan laboratorium seperti; pemeriksaan darah, fungsi ginjal (jika diperlukan), hingga pemeriksaan mikroskopik kencing,
  • Ultrasonografi sistem saluran kemih dan prostat
  • Rontgen abdomen polos atau dengan kontras (IVP)
  • CT urografi
  • MRI
  • Sistoskopi (teropong kandung kemih)

Umumnya dari rangkaian pemeriksaan penunjang, kita dapat menentukan kemungkinan penyebab hematuria. Misalnya dari tes pemeriksaan kencing dapat diperkirakan penyebab hematuria karena infeksi jika ditemukan bakteri. disebabkan batu jika ditemukan kandungan kristal ataupun sel dinding saluran kemih yang dinamakan epitel, tentu pada prakteknya hal tersebut dapat lebih kompleks karena tidak jarang kasus ini bertumpang tindih, oleh karena itu diperlukan pemeriksaan lanjutan berupa imaging saluran kemih hingga peneropongan ke dalam kandung kemih (sistoskopi).

“Walaupun penyakit hematuria seringkali tidak menimbulkan keluhan spesifik pada penderitanya, namun jangan sampai gejala ini diabaikan atau gagal disadari. Apabila penyakit hematuria dibiarkan terus menerus, maka dapat terjadi kerusakan fungsi organ saluran kemih. Dapat juga hingga mengancam jiwa.” Ujar dokter spesialis urologi Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Utara tersebut. Untuk tatalaksana hematuria sendiri, setiap kasus ditangani berdasarkan penyebabnya, namun untungnya kini, berbagai modalitas terapi dan pembedahan kini dapat dilakukan dengan metode minimal invasif, sehingga tidak diperlukan sayatan, sehingga menguntungkan pasien karena rasa nyeri yang minimal, serta hasil waktu rawat inap (hospital length of stay) yang singkat (1-3 hari).

Ilustrasi gambar oleh Freepik

Artikel terkait:

Bagikan ke :