Penyakit Hematuria atau Kencing Mengandung Darah

Jika pada suatu waktu Anda menyadari bahwa kencing (urine) Anda berwarna kuning pekat hingga gelap kecoklatan ataupun kemerahan, bisa jadi urine anda mengandung darah. Kencing bercampur darah atau dalam istilah medis dikenal dengan penyakit hematuria adalah suatu kelainan kencing yang harus diwaspadai karena normalnya kencing kita tidak boleh mengandung sel darah merah (kecuali pada mereka yang sedang menstruasi).

Menurut dr. Regi Septian M.Kes., SpU yang bertugas di Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Utara, ”Penyakit Hematuria dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, dari penyebab ringan hingga penyakit serius yang memerlukan tindak lanjut segera. Namun yang pasti gejala ini merupakan sebuah tanda yang tidak boleh diabaikan karena harus segera dicari tahu penyebabnya.”

Jenis-Jenis Penyakit Hematuria

Pada penderita hematuria, warna urine dapat terlihat jelas berwarna merah maupun berwarna jernih (normal).

Secara umum terdapat  2 jenis hematuria, yaitu:

Hematuria makroskopik. Keadaan dimana urin secara kasat mata dapat terlihat jelas berwarna merah pekat seperti darah segar ataupun berwarna gelap kecoklatan.

Hematuria mikroskopik. Keadaan dimana urin dapat terlihat jernih, namun pada pemeriksaan mikroskop dapat ditemukan sel darah merah (eritrosit) Iebih dari 5 sel darah merah per lapangan pandang urine. Karena itu warna urine pada penderita hematuria dapat muncul dengan derajat warna yang berbeda. Seperti kuning jernih, merah muda, kuning kemerahan, merah pekat seperti darah segar, kecoklatan, hingga warna hitam pekat yang mengindikasikan adanya sel darah merah dalam urine. Namun karena sifatnya sangat subjektif bagi setiap orang yang mengamati, maka diperlukan metode uji yang terukur di laboratorium.

Gejala Penyakit Hematuria

Umumnya gejala hematuria tidak terasa nyeri. Namun apabila dalam perjalanannya disertai perdarahan yang cukup banyak, dapat juga terjadi pembentukan bekuan darah. Hal itu menyebabkan dalam proses pengeluaran bekuan darah bersama kencing, dapat muncul gejala iritasi.

Gejala iritasi ditandai sering berkemih, ataupun nyeri pinggang maupun perut bawah yang seringkali mengganggu. Keadaan ini juga dapat menyebabkan keadaan gawat darurat seperti sumbatan bekuan darah pada saluran kemih luar (urethra) yang ditandai dengan tidak bisa berkemih atau retensi urine sehingga harus segera dibawa ke fasilitas gawat darurat di rumah sakit terdekat. Akan lebih baik jika rumah sakit tersebut memiliki layanan dokter spesialis urologi agar dapat segera ditangani dengan prosedur yang sesuai.

Penyebab Penyakit Hematuria

Penyebab dari hematuria sendiri dapat bermacam-macam. Mulai dari penyebab ringan seperti infeksi, hingga yang berat seperti batu saluran kemih, trauma, keganasan hingga peradangan kandung kemih idiopatik (sistitis hemoragik) dan lain sebagainya.

Beberapa penyebab hematuria yang paling berisiko terutama pada usia dewasa adalah:

  • Batu ginjal, ureter, buli atau sepanjang saluran kemih lainnya,
  • Infeksi pada saluran kemih,
  • Adanya suatu keganasan pada saluran kemih (terutama tumor kandung kemih dan prostat),
  • Pembesaran prostat jinak (BPH),
  • Inflamasi atau peradangan kandung kemih (misalnya sistitis hemoragik),
  • Trauma saluran kemih (misalnya riwayat pemasangan selang kencing sebelumnya, kecelakaan, riwayat operasi dsb),
  • Gangguan dari sistem urogenital atau sistem perkemihan sendiri ataupun dapat disebabkan kelainan diluar sistem perkemihan; seperti gangguan pembekuan darah, kelainan sistem hematologi lainnya dsb.
  • Konsumsi obat pengencer darah (aspilet, warfarin dsb)
Tidak semua urine yang berwarna merah adalah tanda penyakit hematuria

Selain itu beberapa jenis obat dapat menyebabkan urine berwarna merah. Misalnya rifampicin, siklofosfamid, pirazinamid, atau beberapa jenis makanan seperti bit, buah naga dapat menyebabkan urine berwarna merah. Obat-obatan serta makanan tersebut kadang menyamarkan diagnosis penyakit hematuria. Selain itu hindari pemeriksaan urine pada saat menstruasi, karena dapat memberikan hasil yang menyamarkan kesimpulan dokter.

 

Ilustrasi gambar oleh Freepik

Artikel terkait:

Bagikan ke :