AKSES PELAYANAN

APA ARTI AKSES PELAYANAN ?

 
 

Bagaimana Kebijakan RS tentang skrining pasien?

  • Setiap pasien yang diterima sebagai pasien rawat inap atau mendaftarkan diri untuk layanan rawat jalan akan menjalani proses skrining untuk mengidentifikasi kebutuhan perawatan kesehatan mereka agar sesuai dengan misi serta sumber daya rumah sakit.

  • Pasien diterima hanya jika rumah sakit dapat memberikan layanan yang diperlukan dan rawat jalan atau kebutuhan rawat inap yang tepat.

  • Pasien tidak dirawat ,dipindahkan , atau dirujuk sebelum hasil test yang dibutuhkan didapatkan sebagai dasar pengambilan keputusan

 

Dimana skrining pasien dilakukan?

  1. Pendaftaran rawat jalan

  2. Poliklinik umum dan spesialis

  3. Unit gawat darurat

  4. Melalui telephone untuk pasien rujukan atau yang dijemput ambulance

 

Bagaimana skrining pasien dilakukan?

  1. Triase untuk pasien UGD

  2. Evaluasi visual

  3. Pemeriksaan fisik

  4. Hasil pemeriksaan sebelumnya

  5. Riwayat bepergian ke Luar Negeri ( Timur tengah untuk Airborne dan Singapura, Amerika, afrika untuk non airborne)

 

Apa tujuan skrining?

Untuk mengidentifikasi kebutuhan perawatan kesehatan pasien agar sesuai dengan misi serta sumber daya rumah sakit.

 

Bagaimana proses skrining di pendaftaran rawat jalan?

  1. Dilakukan untuk menentukan pelayanan poliklinik baik umum maupun spesialistik yang dibutuhkan oleh pasien.

  2. Dengan cara wawancara singkat antara petugas admission rawat jalan dengan pasien mengenai poliklinik atau pelayanan yang mereka tuju, atau jika belum tahu tujuannya maka petugas petugas pendaftaran bisa berkonsultasi/bertanya kepada petugas medis (dokter poli, perawat, CRO) tentang dokter yang tepat bagi pasien

  3. Selanjutnya pasien akan didaftarkan pada pelayanan yang sesuai dengan tujuan/ kebutuhan pasien.

 

Bagaimana proses skrining di poliklinik umum dan spesialis?

  1. Dilakukan oleh perawat dengan cara mengukur tanda-tanda vital pasien.

  2. Jika pasien dalam kondisi:

  3. Penurunan kesadaran

  4. Distress pernapasan / sesak nafas berat dengan frekuensi pernapasan >26 kali/ menit atau <12 kali/menit

  5. Trauma atau kecelakaan

  6. Overdosis dengan jumlah pernapasan < 6 kali per menit

  7. Bradikardi atau takikardi berat dengan tanda-tanda hipoperfusi

  8. Hipotensi dengan tanda-tanda hipoperfusi

  9. Nyeri dada, pucat, berkeringat dingin, tekanan darah <70/palpasi

  10. Shock anapilaktik

  11. Kejang

  12. Hipoglikemi dengan perubahan status mental

  13. Perdarahan di kepala

 

JENIS PASIEN YG HARUS segera ditransfer ke ugd untuk mendapatkan penanganan segera.

Pasien dengan keluhan:

  1. Nyeri dada, curiga sindrom koroner akut tetapi tidak memerlukan penanganan life saving segera dengan kondisi stabil.

  2. Demam dengan suhu ≥ 39 ⁰c

  3. Nyeri dengan skala 6/10

  4. Luka tertusuk jarum pada petugas kesehatan.

  5. Tanda-tanda stroke namun tidak memerlukan penanganan life saving

  6. Tanda-tanda kehamilan ektopik dengan hemodinamik stabil.

  7. Pasien kemoterapi disertai dengan immunocompromised dan demam.

  8. Pasien percobaan bunuh diri yang tidak memerlukan penanganan life saving

 

Diprioritaskan untuk bertemu dengan dokter terlebih dahulu.

  1. Pasien dengan keluhan batuk-batuk hebat, bintik-bintik merah pada kulit dan badan, disarankan untuk dipercepat antrian pemeriksaan dokter.

  2. Selanjutnya pasien dilakukan pemeriksaan oleh dokter. Skrining selanjutnya dilakukan dengan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

  3. Dari hasil ananmnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dokter akan menentukan pelayanan selanjutnya yang dibutuhkan pasien, yakni:

    1. Dipulangkan dengan pengobatan rawat jalan

    2. Rawat inap ruang biasa

    3. Rawat inap ruang khusus atau intensive

    4. Konsultasi atau alih rawat ke spesialis lain

    5. Tindakan medis

 

Bagaimana skrining pasien UGD dilakukan?

  1. Dilakukan dengan sistem triase.

  2. Triage adalah usaha pemilahan korban sebelum ditangani, berdasarkan tingkat kegawatdaruratan trauma atau penyakit dengan mempertimbangkan prioritas penanganan dan sumber daya yang ada.

  3. Setelah dilakukan triase, pasien akan ditempatkan sesuai dengan derajat kegawatdaruratannya dan dilakukan pemeriksaan oleh dokter UGD.

  4. Skrining pasien di UGD dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

  5. Dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dokter akan menentukan pelayanan selanjutnya yang dibutuhkan pasien, yakni:

      1. Dipulangkan dengan pengobatan rawat jalan

      2. Rawat inap ruang biasa

      3. Rawat inap ruang khusus atau intensive

      4. Konsultasi ke dokter spesialis

 

Bagaimana skrining pasien rujukan dari RS lain melalui telephone?

Pasien rujukan dari rumah sakit / pelayanan kesehatan lain:

  1. Rumah sakit / pelayanan kesehatan yang mengirim pasien; ruangan tempat pasien dirawat;

  2. Nama pasien;

  3. Umur;

  4. Jenis kelamin;

  5. Diagnosa medis;

  6. Keluhan saat ini;

  7. Tanda tanda vital, tingkat kesadaran;

  8. Alasan rujuk ke Rumah Sakit Awal Bros Batam;

  9. Pelayanan yang dibutuhkan;

  10. Penanggungjawab (umum atau jaminan perusahaan / asuransi);

  11. Kebutuhan transportasi

  12. Identitas penelepon

Dari hasil anamnesis ini dapat ditentukan pelayanan yang dibutuhkan pasien. Apabila pelayanan yang dibutuhkan pasien tidak tersedia maka pasien tidak dapat diterima di Rumah Sakit Awal Bros Batam, pasien akan dirujuk ke RS lain yang memiliki fasilitas sesuai kebutuhan pasien.

 

Bagaimana skrining pasien yang minta dijemput melalui telephone?

Skrining pasien yang minta dijemput dari rumah:

  1. Nama pasien

  2. Umur

  3. Jenis kelamin

  4. Keluhan saat ini

  5. Kondisi saat ini

  6. Nama penelepon

  7. Alamat

 

Apakah RAT(Routine Admission Testing)?

pemeriksaan penunjang rutin minimal yang harus dilakukan oleh dokter, terkait hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik untuk MENEGAKKAN DIAGNOSA saat awal masuk rumah sakit, untuk menentukan jenis ruang rawat inap/ critical care dan juga tindakan yang harus segera dilakukan.

Contoh : pasien demam 3 hari dilakukan pemeriksaan laboratorium DL dan widal.

 

Apakah RT (Routine Testing) ?

pemeriksaan penunjang minimal yang harus dilakukan dokter TERKAIT HASIL DIAGNOSIS/ TINDAKAN YANG AKAN DILAKUKAN.

Contoh : Pasien pre operasi dilakukan pemeriksaan DL, CT BT, HbsAg, HIV dll

 
 
kategori pasien masuk rawat inap!
  1. Elective admission, adalah jika pasien masuk rawat inap jika sudah terjadwal sebelumnya, misalnya pasien akan rencana operasi.

  2. Emergency admission, adalah jika pasien masuk rawat inap karena mengalami kegawatan, misalnya pasien dengan diare dan dehidrasi berat.

  3. Direct admission, adalah jika pasien masuk rawat inap dengan tidak melalui rawat jalan atau UGD, misal :

  • Pasien khusus yang keberadaannya tidak ingin diketahui oleh publik (pejabat/ artis/ tokoh masyarakat lainnya). Pelayanan rawat jalan hanya bersifat administratif, pasien dilayani langsung di rawat inap. Dengan persetujuan Managemen Rumah Sakit Awal Bros Batam.

 

Kondisi yang dikategorikan pasien yang masih harus diobservasi:

  1. Nadi: <50 atau >130 kali permenit

  2. Tekanan darah systolic <80 atau >180 mmHg

  3. Tekanan darah diastolic <50 atau >100 mmHg

  4. Pernafasan >35 kali per menit

  5. Skala nyeri > 6

  6. Penurunan kesadaran

  7. Epigastric pain pada pasien dewasa dengan abnormalitas EKG / nyeri tidak hilang dengan terapi biasa.

  8. Syncope / near syncope.

  9. Bradicardi

  10. VES bigemini, VES consecutive (salvo) R on T

  11. Hipertensi grade 2

  12. Hipokalemia berat

  13. Hiperkalemia berat

  14. Guliian Barre Syndrome atau gejala yang menyerupai, meliputi kelemahan otot tungkai bilateral hiporefleks.

  15. Vertigo

  16. Kolik abdomen

  17. Multiple trauma dengan cedera pada wajah.

  18. Luka tusuk abdomen

Pasien yang sesuai criteria tersebut diatas, dilakukan :

  • Observasi maksimal setiap setiap 15 menit sekali

  • Didokumentasikan dalam rekam medis pasien.

  • Dilakukan pemeriksaan penunjang lebih lanjut,

  • Dikonsultasikan ke dokter spesialis atau

  • Langsung dirawat sambil menunggu pemeriksaan lanjutan.

Observasi pasien dilakukan sampai kondisi pasien stabil dan maksimal dilakukan selama 6 jam di UGD.

 

Bagaimana alur pelayanan pasien bila kamar penuh?

  1. MOD menerima informasi dari perawat rawat inap bahwa kamar penuh

  2. MOD mengidentifikasi penyebab kamar penuh dan mendata pasien yang sedang dalam proses pulang.

  3. Apabila tersedia kamar yang sedang proses pulang, maka pasien yang akan masuk rawat inap sesuai dengan kamar tersebut, ditempatkan sementara di ruang transit hingga kamar telah kosong.

  4. Jika yang tidak tersedia adalah ruang perawatan ICU maka pasien ditempatkan di ruang transit intensive di Ruang HCU.

  5. Batas penempatan maksimal di ruang transit tidak boleh lebih dari 4 jam.

  6. Pasien mendapat fasilitas dan pelayanan yang sama dengan pelayanan di rawat inap saat berada di ruang transit sementara.

  7. Apabila diperkirakan waktu menunggu kamar kosong lebih dari 4 jam, maka pasien yang akan masuk rawat inap berikutnya, dicarikan kamar lain yang sesuai atau disarankan rujuk ke rumah sakit lain.

  8. MOD menginformasikan ke petugas admission rawat inap tentang alternative kamarlain yang tersedia saat itu.

  9. Petugas admission rawat inap menyampaikan informasi bila kamar yang diinginkan penuh dan memberitahukan ke pasien kamar yang tersedia saat itu.

  10. Untuk pasien umum pasien/keluarga ditawarkan untuk memilih kamar yang lain yang tersedia saat itu.

  11. Untuk pasien jaminan berlaku ketentuan:

  12. Pasien dititipkan diruang kelas perawatan setingkat lebih tinggi dan dipindahkan jika ruang perawatan yang diminta/menjadi haknya tersedia.

  13. Pasien dititipkan diruang transit sementara, dengan catatan tidak menunggu selama lebih dari 4 jam.

  14. Tarif kamar status titipan sesuai tarif kamar awal yang dipilih saat pasien/keluarga daftar di awal.

  15. Perubahan biaya tarif kamar titipan akan diberlakukan tarif normal bila kamar yang dipesan di awal tidak juga tersedia minimal 3 x 24 jam atau dipindahkan ke rumah sakit lain.

  16. Petugas administrasi menginformasikan ke MOD kamar yang disetujui pasien (sesuai kesepakatan).

 

Apakah yang di maksud dengan Triase ?

Triase adalah Usaha pemilahan pasien sebelum ditangani berdasarkan tingkat kegawatdaruratan trauma atau penyakit dengan mempertimbangkan prioritas penanganan dan sumber daya yang ada.

 

Sebutkan jenis triase ?

  1. Kondisi bencana : START

  2. Kondisi non bencana : ESI

 

Jelaskan mengenai triase START?

  1. Simple Triase & Rapid Treatment (START) adalah sistem triase yang hanya digunakan pada kondisi bencana yang digunakan di RS Awal Bros Batam dan diatur dalam SPO/K3RS/142/15 tentang Sistem Triase Bencana.

  2. Kategori triase pada kondisi bencana dengan START :

  3. Kategori Triase Hijau :

Penderita/ korban dapat berjalan sendiri, walaupun terluka dapat menunggu untuk mendapatkan pertolongan.

  1. Kategori Triase Hitam :

Penderita/ korban sudah tidak bernapas, walaupun jalan napas sudah dibebaskan.

  1. Kategori Triase Merah :

Penderita/ korban yang karena kegawatdarutannya terancam nyawanya dan harus segera ditolong (akan meninggal dunia bila tidak segera ditolong).

  1. Kategori Triase Kuning :

Penderita/ korban yang karena cedera/ penyakitnya tidak dapat berjalan sendiri, tidak terancam nyawanya dan masih dapat menunggu untuk mendapatkan pertolongan.

 

Jelaskan mengenai Emergency Severity Index?

  • ESI Level 1 Resusitasi: Memerlukan intervensi segera untuk menyelamatkan nyawa atau pasien tidak responsif-prioritas tertinggi.

  • ESI Level 2 Gawat Darurat: Keadaan resiko tinggi, nyeri, sesak berat, atau gangguan kesadaran akut berupa kebingungan/letargi/disorientasi.

  • ESI Level 3 Darurat: Memerlukan 2 atau lebih sumberdaya UGD sesuai dengan Emergency Severity Index.

  • ESI Level 4 Kurang Darurat: Memerlukan 1 sumberdaya UGD sesuai dengan Emergency Severity Index.

  • ESI Level 5 Tidak Gawat Darurat: Tidak memerlukan sumber daya UGD sesuai dengan Emergency Severity Index – prioritas terendah untuk diperiksa.Pasien dengan ESI Level 5 diarahkan ke unit rawat jalan.

 

Apakah yang dimaksud dengan sumber daya dalam triase ESI?

Sumber daya yang dimaksud adalah perawat/petugas penunjang/alat medis/alat penunjang yang dibutuhkan oleh dokter dalam melakukan life saving serta untuk menentukan penegakan diagnosa, apakah pasien perlu tindakan/pengobatan segera, observasi, dirawat, dirujuk, ataupun dapat dipulangkan. Yang termasuk sumberdaya adalah:

  • Pemeriksaan laboratorium & radiologi

  • Pengobatan intravena/intramuscular/nebulisasi

  • Pemasangan jalur infus intravena untuk kepentingan rehidrasi

  • Konsultasi dokter spesialis

  • Penanganan prosedur sederhana (pemasangan folley catheter/nasogastric tube/tindakan sedasi).

Masing-masing bidang tersebut terhitung 1 (satu) sumber daya.

 

Bagaimana kebijakan perujukan pasien ?

  1. Pasien emergency yang diperiksa dan dibuat stabil dulu sebelum dirujuk

  2. Pasien dalam kondisi gawat akan dikaji dan distabilisasi sesuai dengan kapasitas rumah sakit sebelum ditransfer.

Staff yang bagaimana untuk menangani pasien Staff yang bagaimana untuk menangani pasien berdasarkan kriteria triase ? kriteria triase ?

Staf yang bekerja di Unit Gawat Darurat baik dokter maupun perawat wajib mendapatkan pendidikan dan pelatihan kriteria triase.

 

Sebutkan kategori pelayanan dan prioritasnya!

Rumah sakit memiliki prioritas dalam pelayanan rawat inap, sesuai kebutuhan pasien akan layanan preventif, paliatif dan rehabilitative berdasarkan kondisi pasien pada saat diterima di rumah sakit sebagai pasien rawat inap.

    1. Pelayanan preventif

Pelayanan preventif yang tersedia di Rumah Sakit Awal Bros Batam, adalah:

    1. Medical check up

    2. Senam hamil

    3. Deteksi dini penyakit tertentu, yaitu : pap’s smear, mammografi dan USG mammaae

    4. Konsultasi gizi

Pelayanan preventif tersebut diatas dalam bentuk pelayanan rawat jalan. Artinya pasien tidak perlu dirawat inap untuk mendapatkan pelayanan tersebut diatas.

    1. Pelayanan kuratif

  • Unit Rawat Jalan / Poliklinik,

  • Unit Gawat Darurat dan

  • Unit Rawat Inap yang terdiri dari Rawat Inap bayi, anak, dewasa baik laki-laki maupun perempuan.

    1. Pelayanan paliatif

  • Pelayanan Kemoterapi

  • Pelayananpasien dalam kondisi end of life /akhir hayat.

Pelayanan paliatif tersedia di Unit Rawat Inap. Untuk menunjang pelayanan paliatif telah tersedia ruangan khusus immunocompromise dan ruangan kemoterapi. Pasien dengan kondisi immunocompromise mendapat prioritas untuk menempati ruangan bertekanan positif. Pasien yang sudah dijadwalkan untuk tindakan kemoterapi sesuai dengan protocol kemoterapi, maka mendapat prioritas saat mendaftar rawat inap.

    1. Pelayanan rehabilitative

  • Pelayanan klinik rehabilitasi medis, fisioterapi, terapi wicara dan orthotic prostetik.

 

Apa jenis penundaan pelayanan Rumah Sakit Awal Bros Batam?

  1. Keterlambatan/penundaan layanan diagnostik di Unit Rawat Jalan/UGD:

  2. Keterlambatan/penundaan pelayanan di Unit Rawat Inap:

    1. Kamar perawatan penuh

    2. Penundaan/keterlambatan pelayanan diagnostik

    3. Penundaan/keterlambatan tindakan

  3. Keterlambatan/Penundaan Pemberian Pengobatan/treatment di UGD, Rawat Jalan dan Rawat Inap.

  4. Keterlambatan / penundaan waktu tindakan operasi elektif yang harus dilakukan sesuai jadwal karena tindakan operasi pada jadwal sebelumnya memanjang atau terdapat operasi CITO.

 

Bagaimana prosedur bila ada penundaan pelayanan?

  1. Pasien diinformasikan adanya penundaan pelayanan

  2. Pasien harus diberitahu tentang alasan penundaan atau mengapa harus menunggu dan apa saja alternatifnya.

  3. Selama masa penantian, pasien akan tetap diberikan terapi dan nutrisi yang diperlukan sesuai dengan kebutuhannya.

  4. Pasiendan keluarga baik pasien rawat jalan atau pasien rawat inap diberikan edukasi mengenai alternatif ataupun informasi penundaan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan klinis pasien serta di dokumentasikan di dalam rekam medis pasien.

  5. Maksimal lama penundaan kurang dari 6 (enam) jam. Jika lebih, maka harus dibuatkan jadwal ulang untuk hari berikutnya atau disesuaikan dengan kebutuhan pasien saat itu.

  6. Pada kondisi pasien membutuhkan pelayanan segera (cito), namun di instansi kesehatan lain tidak tersedia pelayanan yang dimaksud/dikarenakan pasien menolak dirujuk, maka pasien atau penanggung jawabnya juga dijelaskan mengenai risiko yang dapat terjadi dan konsekuensi akibat penundaan pelayanan.

 

Bagaimana jika ada penundaan pelayanan pada kasus cito?

Segera dirujuk ke instansi kesehatan lain yang dapat memenuhi fasilitas/ sumber daya yang dibutuhkan setelah dilakukan tindakan life saving.

 

Penjelasan apa saja yg diberikan untuk keluarga pasien sebelum pasien dirawat ??

Penjelasan pada waktu pasien akan dirawat meliputi :

  • Maksud dan tujuan pasien dirawat

  • Hasil yang diharapkan

  • Perkiraan biaya

Sehingga pasien dan klg cukup jelas untuk mengambil keputusan .

 

Bagaimana prosedur apabila menerima pasien yg memiliki kendala bahasa, cacat fisik atau budaya yg berbeda ?

  1. RS menyediakan fasilitas penterjemah sesuai bahasa yg dimengerti oleh pasien .

  2. Apabila ada kendala cacat fisik seperti bisu,tuli menggunakan bahasa tulisan, apabila ada faktor perbedaan budaya , staff sudah difasilitasi kompetensi cultural competency untuk menghadapi pasien dengan latar belakang budaya yg berbeda.

  3. Memahami Bahasa dan Adat Istiadat, Kebiasaan dan Budaya Pasien

  4. Apabila pasien/keluarganya tidak memahami bahasa yang dipergunakan maka setiap staf harus menggunakan bantuan alih bahasa sesuai dengan bahasa yang dipahami pasien/keluarga.

  5. Hindari penggunaan istilah kedokteran yang tidak dipahami oleh pasien/keluarga.

  6. Rumah Sakit harus menyediakan fasilitas, sarana, alat yang dibutuhkan untuk melakukan komunikasi efektif dengan pasien yang mengalami gangguan sensorik sehingga tidak mampu berkomunikasi secara efektif.

  7. Edukasi dan Informasi diberikan kepada pasien secara verbal dan diperjelas dengan formulir tertulis serta terdokumentasi dalam file rekam medis guna memastikan pemahaman pasien dan keluarga pasien dengan mempertimbangkan kepercayaan yang dianut, kemampuan membaca dan menulis, hambatan emosi, keterbatasan fisik, maupun kesediaan menerima informasi.

 

Apa criteria pasien masuk ke ICU?

Dengan prioritas :

  1. Prioritas 1

Kelompok pasien dengan penyakit kritis yang tidak stabil yang membutuhkan terapi intensif seperti bantuan ventilator, pengobatan infuse vasoaktif terus menerus, dll.

  1. Prioritas 2

Kelompok pasien ini memerlukan perawatan, pengawasan lanjutan dari unit perawatan intensif. Pasien kelompok ini memiliki risiko tinggi sehingga membutuhkan terapi intensif dengan segera. Contohnya pasien dengan penyakit jantung, masalah paru-paru, atau ginjal akut yang telah melalui operasi besar dengan hemodinamik yang tidak stabil

  1. Prioritas 3

Pasien dengan metastasis parah diikuti dengan komplikasi seperti infeksi, pasien pericardial tamponade,dll. Pasien Prioritas 3 mungkin mendapatkan terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut namun terapi ini tidak akan dapat mengurangi kebutuhan intubasi atau resusitasi jantung paru.

  1. Kriteriapasien masuk pelayanan intensif menggunakan :

  • Early Warning Score (EWS) : ≥ 7 untuk perawatan di ICU dan ≥ 5 untuk perawatan di HCU pada pasien dewasa

  • PEWS : > 5 atau score 3 pada salah satu paramater: aktivitas, cardiovaskuler atau respiratory rate untuk perawatan PICU pada pasien anak.

  • Downe Score :> 4, memakai alat bantu nafas dan bayi prematur untuk perawatan NICU pada pasien neonatus.

  1. Kriteria fisik pasien yang akan dirawat di ICU :

  2. Kesadaran dengan GCS ≤8, pasien terintubasi dan atau tidak terintubasi

  3. Tekanan darah sistolik ≤ 80 mmHg (hemodinamik tidak stabil) atau 20 mmHg di bawah tekanan normal

  4. Tekanan darah diastolik ≥ 120 mmHg

  5. MAP ≤ 60 mmHg

  6. Menggunakan obat-obatan inotropik atau vasoaktif

  7. HR < 40x/menit atau > 150x/menit (tidak stabil dengan hasil EKG mengancam nyawa)

  8. RR < 8x/menit atau > 35x/menit (terdapat gangguan ventilasi : hipoksia dan hiperapnia)

Catatan :

Indikasi manual bagging :

  1. Pasien apnea

  2. Oksigenasi tidak maksimal dari hasil analisa gas darah

  3. Untuk mengurangi kerja pernapasan

  4. Hipoksemia pada ventilasi yang buruk

  5. Gula darah tidak terkontrol (hipoglikemia <40 mg/dl/ hiperglikemia >500 mg/dl)

  6. Asam laktat (nilai> 4 mmol/ L)

  7. Serum natrium <120 mmol/L atau >160 mmol/L

  8. Serum potassium < 2.8 mmol/L atau >6 mmol/L

  9. Serum kalsium < 6.5 mmol/L atau>14 mmol/L

  10. PaO2< 40 atau >60 mmHg

  11. PaCO2<20 atau > 75 mmHg

  12. pH < 7,1 atau >7,59

  13. Keracunan obat atau efek samping atau barang-barang kimia lainnya yang menyebabkan gangguan hemodinamik atau kesadaran.

  14. Tension pneumothorak

  15. Perdarahan otak

  16. Emboli paru akut (arteri pulmonalis)

  17. Diseksi aorta

  18. Ruptur aneurisma

  19. Tamponade jantung

  20. Acute Coronary Syndrom

 

Apa criteria masuk PICU?

Pediatric Early Warning Score >5 atau 3 pada salah satu parameter.

  1. Kriteria fisik untuk pasien PICU

  2. Kesadaran dengan nilai GCS ≤ 8 atau ≥ 8 dengan hemodinamik tidak stabil.

  3. Pasien terintubasi

  4. Tekanan darah belum stabil, dilihat dari usia:

1 ) 28 hari – < 1 tahun : < 70 mmHg

2 ) < 10 tahun : < 70 mmHg + (umur x 2 )

3 ) > 10 tahun : < 90 mmHg

  1. Denyut nadi tidak stabil, dengan hasil EKG mengancam nyawa:

  2. 1 ) 28 hari – < 2 tahun : < 80 x /menit dan > 180 x / menit

2 ) 2-10 tahun : < 60 x / menit dan > 150 x / menit

3 ) > 10 tahun : < 60 x / menit dan > 100 x / menit

  1. Frekuensi pernapasan (ada gangguan ventilasi: hipoksia dan hyperapnea):

  2. 1 ) 28 hari – < 1 tahun : <30 x / menit dan > 60 x / menit

2 ) 1-3 tahun : <25 x / menit dan > 40 x / menit

3 ) 3 – 12 tahun : <20 x / menit dan > 30 x / menit

4 ) > 12 tahun : > 20 x / menit

  1. Menggunakan obat-obatan inotropik dan vasoaktif

  2. Gula darah tidak terkontrol (hipoglikemia <40 mg/dl/ hiperglikemia >500 mg/dl)

  3. Asam laktat (nilai> 4 mmol/ L)

  4. Serum natrium <120 mmol/L atau >160 mmol/L

  5. Serum potassium < 2.8 mmol/L atau >6 mmol/L

  6. Serum kalsium < 6.5 mmol/L atau>14 mmol/L

  7. PaO2< 40 atau >60 mmHg

  8. PaCO2<20 atau > 75 mmHg

  9. pH < 7,1 atau >7,59

  10. Keracunan obat atau efek samping atau barang-barang kimia lainnya yang menyebabkan gangguan hemodinamik atau kesadaran.

  11. Kriteria fisik pasien keluar PICU

Kriteria fisik pasien keluar PICU adalah perbaikan kondisi dari kriteria pasien masuk rawat PICU.

 

Sebutkan kriteria pasien masuk NICU!

  1. Kriteria fisik untuk rawat inap pasien perinatologirisiko tinggi

  2. Penatalaksanaan level 1 (perawatan)

  3. Perawatan dasar bayi

  4. Lahir spontan dengan kepala atau disposisi bokong

  5. Ruang perawatan untuk bayi tanpa infus atau oksigen

  6. Tidak asfiksia (AS menit pertama > 7)

  7. Cukup bulan (> 37 minggu), BBL > 2500gram

  8. Tidak asfiksia, sianosis, ekstremitas dingin, gelisah

  9. Tidak ada kelainanbawaan

  10. Hiperbilirubinemia (kadar bilirubin > 10 mg/dl) ketika lahir

Level 1 dengan pengawasan :

  1. Vakum/forsep

  2. Sectio Caesaria dengan narkose

  3. Asfiksia ringan(AS menit pertama : 5-6)

  4. KMK bayi dengan berat 2000-2500 gram

  5. Kehamilan prematur 36-37 minggu

  6. Bayi dengan oksigen 1 liter/menit kurang dari tiga jam

  7. Penatalaksanaan level 2 (perinatologi): perawatan bayi dengan pengawasan ketat

  8. Setiap bayi setelah penatalaksanaan level 3

  9. Bayi dari ibudiabetes mellitus

  10. Asfiksiasedang

  11. BBL <2000 gram

  12. Usiakehamilan < 35 minggu

  13. Bayi dengan pengobatan transfusi ganti/hiperbilirubinemia

  14. Bayi spastic

  15. Enteritis, sepsis

  16. Hiperbilirubinemia (kadar bilirubin > 10 mg/dl) untuk pasien yang berasal dari rawat jalan atau unit gawatdarurat

  17. Penatalaksanaan Level 3(NICU): perawatan bayi dengan pengawasan ekstra ketat.

  18. BBL1000-1500gram

  19. Usia kehamilan 28 minggu

  20. Gangguan pembekuan darah

  21. Kelainan bawaan yang dapat diperbaiki

  22. Asfiksia berat

  23. Sepsis berat

  24. Bayi yang membutuhkan bantuan pernapasan mekanik(ventilator, CPAP)

  25. Setelah laparotomi, operasi torakotomi

  26. Kriteria fisik untukkeluar rawat pasien perinatologi risiko tinggi

  27. Penatalaksanaan Level 1(Perawatan)

  28. Reflek hisap baik

  29. Kadar bilirubin<10 mg/dlpada hari ke-2untuk bayi lahir spontan atau pada hari ke-3untuk bayilahirdenganSC

  30. Pernapasan40-60x/menit

  31. Tidak asfiksia,sianosis, ekstremitasdingin,gelisah

  32. Penatalaksanaan Level 2(Perinatologi): perawatan bayi dengan pengawasan ketat

  33. Reflek hisap baik

  34. Kadar bilirubin<10 mg/dl

  35. Pernapasan 40-60x/menit

  36. Bayi tidak memerlukan oksigen

  37. PenatalaksanaanLevel 3(NICU): perawatan bayi dengan pengawasan ekstra ketat.

Criteria Bayi keluar dari NICU adalah bayi sudah tidak menggunakan bantuan pernapasan mekanik (ventilator, CPAP)

 

Selama dirawat, pasien sering harus dipindahkan di dalam rumah sakit. Bagaimana kesinambungan pelayanan dapat berjalan?

Apabila terdapat perubahan tim perawatan sebagai akibat dari perpindahan ini, demi kesinambungan perawatan pasien, maka informasi penting yang berkaitan dengan pasien perlu dipindahkan bersama pasien.

Untuk dapat melaksanakan pemindahan informasi tersebut, catatan pasien dipindahkan atau informasi data pasien diringkas pada saat pemindahan terjadi.

Ringkasan tersebut meliputi:

  1. Alasan untuk penerimaan

  2. Hasil temuan yang berarti,

  3. Diagnosis,

  4. Prosedur yang dilakukan,

  5. Obat-obatan dan perawatan lainnya,

  6. Dan kondisi pasien saat dipindahkan.

 

Bagaimana prosedur transfer di internal RS?

  • Prosedur transfer hanya boleh dilakukan apabila pasien dalam keadaan yang cukup baik/ stabil/ transportable untuk dipindahkan.

  • Pasien yang akan ditransfer maka kegawatannya diatasi terlebih dahulu di unit yang akan mentransfer.

  • Pasien dengan ancaman life saving/ yang dirawat/akan dirawat di ICU/ ICCU/ PICU, peristi level III dan HCU harus didampingi dokter dan saat ditransfer harus disiapkan peralatan, minimal:

  1. Oksigen

  2. Oximetri

  3. Bagging

  • Petugas yang mendampingi pasien harus mengetahui kondisi pasien, minimal tentang:

  1. Pengelolaan jalan napas penderita

  2. Cairan yang telah / akan diberikan

  3. Prosedur khusus yang mungkin akan diperlukan

  4. Prosedur resusitasi dan perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi selama dalam perjalanan.

  • Selama proses transfer pasien dilakukan observasi kondisi pasien sebelum, selama dan ketika sampai di tempat tujuan serta penanganannya meliputi:

  1. Bantuan untuk sistem kardiorespirasi;

  2. Pemberian cairan dan obat-obatan sesuai instruksi dokter;

  3. Monitor tanda-tanda vital.

  • Setiap transfer harus tetap menjaga privasi pasien.

  • Perawat melakukan serah terima dengan petugas yang menerima pasien mengenai:

  1. Identitas penderita

  2. Anamnesis singkat kejadian, termasuk data pra rumah sakit yang penting

  3. Penemuan awal pada pemeriksaan penderita

  4. Tindakan yang telah dilakukan

  5. Respon terhadap terapi.

  • Pasien ditransfer dengan mempertimbangkan keselamatan pasien, kelayakan transport dan memenuhi pencegahan dan pengendalian infeksi.

  • Setiap proses pemindahan harus tetap menjaga privacy pasien.

 

Apa criteria pasien yang diijinkan pulang?

Pasien yang izinkan pulang :

  • Keadaan umum baik,

  • Dapat memenuhi kebutuhan nutrisi secara mandiri (baik personal maupun dengan bantuan keluarga),

  • Dapat meminum obat yang diberikan secara mandiri (baik personal maupun dengan bantuan keluarga),

  • Secara klinik dapat dilakukan perawatan di rumah

 

Apakah RS Awal Bros Batam mengijinkan pasien pulang sementara/ cuti?

Rumah Sakit Awal Bros Batam tidak mengijinkan pasien pulang untuk sementara waktu / cuti, sebelum dokter mengijinkan pulang. Jika pasien mengajukan permintaan pulang / keluar dari perawatan di rumah sakit untuk sementara waktu, maka akan diberlakukan sebagai pasien pulang atas permintaan sendiri sesuai dengan prosedur.

 

Apa saja edukasi yang harus diberikan kepada pasien sebagai persiapan pulang?

  • Penggunaan obat obatan yang aman dan efektif (tidak hanya obat yang diberikan pada saat pemulangan), termasuk kemungkinan efeksamping obat.

  • Penggunaan tekhnologi kesehatan yang aman dan efektif.

  • Kemungkinan adanya interaksi antara obat – obatan yang diberikan dengan obat lain (termasuk obat yang dijual bebas) serta makanan.

  • Diet dan nutrisi.

  • Tata laksana nyeri.

  • Teknik rehabilitasi.

 

Sebutkan isi resume medis ?

  1. Alasan pasien masuk rumah sakit, diagnosis dan komorbiditas.

  2. Hasil pemeriksaan fisik dan hal – hal signifikan lain yang ditemukan

  3. Prosedur diagnostik dan prosedur terapi yang dilakukan

  4. Obat – obatan yang diberikan selama rawat inap beserta efek yang mungkin terjadi bila pengobatan diberikan dan obat – obatan yang dibawakan pulang.

  5. Kondisi/ status pasien saat dipulangkan

  6. Instruksi tindak lanjut

 

Bagaimana prosedur jika Pasien pulang atas permintaan pasien sendiri dengan sepengetahuan petugas RS?

  1. Perawat menerima informasi dari pasien dan/atau keluarga bahwa pasien ingin pulang atas keinginan sendiri

  2. Perawat menggali informasi dari pasien / keluarga alasan pasien ingin pulang atas keinginan sendiri

  3. Perawat memberitahukan kepada dokter DPJP utama dan dokter jaga bangsal

  4. Dokter DPJP utama atau dokter jaga bangsal melakukan edukasi bahwa pasien sebenarnya belum diperbolehkan pulang dan resiko komplikasi jika pasien pulang sebelum ada instruksi dari dokter yang merawat

  5. Pasien wajib mengisi surat pernyataan penolakan dirawat.

  6. Perawat menyiapkan lembaran Resume Medis.

  7. DPJP utama mengisi Lembaran Resume Medis pasien yang akan pulang.

  8. Bila DPJP utama tidak dapat mengisi Resume Medis Pasien dikarenakan alasan yang jelas, maka pengisiannya dapat didelegasikan kepada dokter jaga bangsal atas izin DPJP.

  9. Pasien dipulangkan sesuai prosedur pasien pulang dari rawat inap.

  10. Apabila pasien memiliki dokter keluarga dan/atau dokter perusahaan, maka dokter tersebut harus diberikan informasi mengenai keputusan pasien untuk pulang tanpa seizing dokter yang merawat.

  11. Pada kondisi tertentu, rumah sakit melapor kepada otoritas kesehatan setempat atau tingkat nasional mengenai kasus-kasus penyakit menular dan memberikan informasi yang menyangkut kemungkinan pasien membahayakan diri sendiri atau masyarakat lain.

 

prosedur Pasien pulang atas permintaan sendiri tanpa sepengetahuan petugas RS

  1. Perawat ruangan segera menghubungi pasien tersebut.

  2. Perawat menggali informasipenyebab pasien pulang tanpa pemberitahuan dan memberikan edukasi bahwa pasien sebenarnya belum diperbolehkan pulang dan menjelaskan resiko apabila pasien pulang tanpa seizing dokter.

  3. Perawat menghubungi Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) atas kepulangan pasien yang tanpa ijin.

  4. Perawat menyiapkan lembaran Resume Medis.

  5. DPJP mengisi Lembaran Resume Medis pasien yang pulang.

  6. Bila DPJP tidak dapat mengisi Resume Medis Pasien dikarenakan alasan yang jelas, maka pengisiannya dapat didelegasikan kepada dokter jaga bangsal atas izin DPJP.

  7. Resume Medis Pasien disimpan di file rekam medis pasien.

  8. Petugas rumah sakit menghubungi pasien untuk menjelaskan biaya dan administrasi yang harus diselesaikan pasien

  9. Apabila pasien memiliki dokter keluarga dan/atau dokter perusahaan, maka dokter tersebut harus diberikan informasi mengenai keputusan pasien untuk pulang tanpa seizing dokter yang merawat.

  10. Pada kondisi tertentu, rumah sakit melapor kepada otoritas kesehatan setempat atau tingkat nasional mengenai kasus-kasus penyakit menular dan memberikan informasi yang menyangkiut kemungkinan pasien membahayakan diri sendiri atau masyarakat lain.

  11. Perawat dan petugas administrasi mendatangi kediaman pasien, sesuai alamat yang tertera dalam persetujuan pembayaran.

  12. Perawat melihat kondisi pasien dan petugas administrasi menyelesaikan biaya dan administrasi pasien.

  13. Pasien wajib mengisi surat pernyataan penolakan rawat inap

  14. Perawat menyerahkan resume medis pasien

  15. Resume medis disimpan dalam rekam medis pasien.

 

Sebutkan instruksi tindak lanjut yang harus diberikan kepada pasien dan keluarga?

  • Kapan kembali untuk pelayanan tindak lanjut

  • Kapan mendapatkan pelayanan yang mendesak

  • Instruksi untuk pelayanan bila diperlukan, berkenaan dengan kondisi pasien

 

Bagaimana tindak lanjut pasien yang rawat jalan dan rawat inap yang pulang paksa?

Pasien dihubungi oleh perawat ruangan bersangkutan, mengenai kondisi pasien saat ini dan saran tindak lanjut

 

Sebutkan criteria pasien yang dirujuk ke pelayanan kesehatan lain?

  1. Sarana, petugas, atau alat habis pakaiyang dibutuhkan pasien tidak tersedia atau dalam perbaikan.

  2. Pasien yang memerlukan rawat inap tetapi kamar rawat inap di Rumah SakitAwal Bros Batam tidak tersedia (penuh).

  3. Pasien yang memerlukan tindakan segera tetapi dokter tidak ada di tempat.

  4. Pasien dengan gangguan psikiatri psikotik yang membahayakan.

  5. Pasien dengan kasus-kasus yang membutuhkan isolasi khusus, seperti avian influenza, Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

  6. Memenuhi kebutuhan pasien akan perawatan rehabilitasi jangka panjang

  7. Atas permintaan pasien atau keluarga.

 

Sebutkan dokumentasi proses rujukan?

Didokumentasikan dalam formulir Merujuk pasien dewasa / anak.

Formulir disimpan dalam rekam medis pasien.

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.