Lupus, Si Penyakit Seribu Wajah

Hari lupus sedunia yang baru saja diperingati tiga hari lalu, tepatnya 10 Mei, menjadi peringatan tentang bahayanya lupus yang termasuk salah satu penyakit mengancam jiwa penderitanya.

Dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Awal Bros Batam dr. Arif Koswandi, SpPD – KGEH menjelaskan lupus atau penyakit autoimun adalah kondisi saat sistem imun atau kekebalan tubuh seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan substansi asing dengan sel jaringan tubuh sendiri.

“Kondisi ini membuat sisitem kekebalan tubuh menyerang sel, jaringan dan organ tubuh yang sehat, seperti jantung, ginjal, paru–paru, kulit, dan otak,” ujar dokter Arif. Dalam teorinya, lupus termasuk penyakit kategori langka dengan angka kejadian 3-20 orang per 100.000 penduduk. Namun, penyakit ini memungkinkan siapapun bisa terkena penyakit ini. Mayoritas penderitanya adalah perempuan dengan perbandingan 9:1 dengan laki-laki.

“Penyakit ini dapat mengenai segala umur, terutama di usia golongan produktif 15 – 45 tahun,” sebut dokter Arif. Penyakit yang tidak bisa menular namun mengancam jiwa ini, dikatakan dokter spesialis penyakit dalam tersebut belum diketahui pasti penyebabnya. Beberapa menduga penyakit ini disebabkan faktor genetik yang dipicu oleh infeksi, stress, pajanan matahari, dan obat-obatan.

Jenis Lupus

Dari jenisnya, lupus terbagi tiga tipe yang dilihat dari cara terjangkitnya dan penularannya.  Tiga jenis tersebut adalah lupus Eritematosus Sistemik (SLE), Cutaneus Lupus Erythematosus (CLE), dan lupus karena obat–obatan. “Jenis yang paling sering adalah SLE dengan angka 70 persen kasus di dunia, yang juga dikenal sebagai penyakit seribu wajah,” ucap dokter Arif.

Mengapa disebut penyakit seribu wajah? Hal ini disebabkan SLE memiliki gambaran klinis yang luas serta tampilan perjalanan penyakit yang beragam dan mirip dengan penyakit lainnya. Sehingga seringkali menimbulkan kekeliruan dalam upaya menganalisa.

Dokter lulusan Kedokteran Universitas Padjajaran itu menambahkan, SLE memiliki gejala yang mirip dengan penyakit lain, sehingga sulit dideteksi. Tingat keparahannya pun beragam, mulai dari ringan hingga yang mengancam jiwa. “Gejala SLE dapat timbul secara tiba-tiba atau berkembang perlahan. Pasien SLE dapat mengalami gejala yang bertahan lama atau bersifat sementara sebelum akhirnya kambuh lagi,” paparnya. Misalnya terjadi kemerahan pada kulit tangan, hidung dan pipi yang dikira menderita penyakit kulit, padahal hal tersebut adalah salah satu gejala lupus. Atau ketika seseorang merasakan lelah dan demam berkepanjangan, rambut rontok, persendian bengkak dan sariawan, tanda-tanda tersebut juga menunjukkan terkena lupus.

Gejala Lupus

Ada 12 gejala yang umum terjadi pada penderita positif lupus. Jika minimal empat gejala terpenuhi, maka seseorang tersebut sudah dapat dipastikan terkena lupus,” ujar dokter Arif. Dua belas gejala tersebut yakni, sensitif terhadap sinar matahari berupa perubahan warna kulit ataupun bentuk kemerahan (rash). Gejala lain adalah timbul bercak kemerahan di kedua pipi dan hidung seperti gambaran kupu–kupu (butterfly rash), ruam kemerahan di kuit terutama lengan (discoid lupus), sariawan yang tidak kunjung sembuh dan tidak biasa tempatnya terutama di atap rongga mulut dan tenggorokan, nyeri dan bengkak pada persendian terutama di lengan dan tungkai serta menyerang lebih dari dua sendi (artritis).

Selanjutnya, terjadi nyeri dada terutama saat berbaring dan menarik nafas panjang karena peradangan di paru–paru dan jantung, kejang atau kelainan saraf, kelainan hasil pemeriksaan laboratorium yaitu kurang darah (anemia) atau jumlah sel darah putih rendah, jumlah sel pembekuan darah (trombosit) rendah, kelainan pemeriksaan ginjal, antibodi ANA, dan kelainan pemeriksaan imunologik dengan Ds DNA Positif.

Pengobatan Lupus

Untuk pengobatan, dokter Arif mengaku hingga saat ini orang dengan lupus (odapus) belum dapat disembuhkan total. Odapus dapat mengalami remisi yang artinya tanpa gejala dengan tanpa obat, dan sewaktu–waktu bisa kambuh kembali.

“Tujuan pengobatan hanya untuk mendapatkan remisi panjang (remisi komplit), mengurangi tingkat gejala, mencegah kerusakan organ dan memperpanjang harapan hidup. Dengan berkembangnya teknologi pengobatan SLE, sebagian penderita SLE dapat hidup normal atau setidaknya mendekati tahap normal,” papar dokter spesialis penyakit dalam tersebut. Pengobatan itu dibantu dengan obat–obatan (medikamentosa) maupun nonobat (lifestyle). Dalam penerapan gaya hidup ini, odapus harus memperhatikan aspek keamanan untuk mempertahankan kualitas hidup, agar dapat hidup normal dan melakukan aktivitas sehari–hari tanpa hambatan.

Untuk berkonsultasi mengenai masalah kesehatan dan mendapat informasi paket-paket Medical Check Up, Anda dapat menghubungi Customer Care RS Awal Bros Batam di +62 813 6431 7777 atau 0778-431777 ext 1991/1992. Semoga bermanfaat.

 

Diterbitkan oleh Batam Pos, Healthy Living, Minggu 13 Mei 2018, Hal. 19
Ilustrasi gambar oleh Kirsty

Bagikan ke :