10 Mitos tentang Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Seberapa jauh Anda tahu tentang penyakit jantung dan pembuluh darah? Ada banyak asumsi yang beredar di masyarakat, baik dari isu yang kita dengar dari teman, keluarga ataupun hoax yang beredar di media sosial. Banyak anggapan bahwa penyakit jantung hanya terjadi pada manula (orang lanjut usia > 65 tahun), atau hanya pada orang- orang yang mengonsumsi makanan berminyak. Tahukah Anda? bahwa penyakit jantung bisa menyerang siapa saja, berapapun umurnya, bahkan pada orang yang sudah menjaga pola konsumsi makanan, termasuk vegetarian.

Dua puluh hingga tiga puluh tahun lalu penyebab kematian utama di dunia adalah penyakit infeksi, namun saat ini penyakit jantung dan pembuluh darah sudah menjadi penyebab kematian teratas di dunia, bahkan lebih daripada kanker yang sangat ditakuti oleh masyarakat.

Fakta atau Mitos Penyakit Jantung?

Pengetahuan yang baik sangat diperlukan agar kita bisa membedakan antara fakta dan mitos yang sering kita dengar. Di antaranya adalah:

  1. “Usia saya terlalu muda untuk terkena penyakit jantung.”
    Penyakit jantung terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah jantung yang dikenal sebagai pembuluh arteri koroner. Pembuluh atau urat koroner bisa mengalami penyempitan akibat adanya kerak atau plak lemak yang menempel pada dindingnya. Wajib diketahui bahwa plak ini sudah terbentuk sejak di usia dini (anak-anak atau remaja), dan di usia yang lebih tua, arteri koroner akan mengalami penyumbatan (istilah lain untuk penyempitan yang sudah parah). Saat ini, serangan jantung diketahui terjadi pada usia yang lebih muda. Tak jarang di umur 30-40 tahun, bahkan di usia 20-an tahun, terutama jika mengidap penyakit diabetes (penyakit gula) atau memiliki kebiasaan merokok.
  2. “Penyakit darah tinggi hanya terjadi pada orang yang bergejala sakit kepala. Jika saya tidak mengeluhkan apa-apa, berarti tekanan darah saya normal.”
    Penyakit darah tinggi bisa membunuh secara “diam-diam” karena seringkali pasien tidak menyadari bahwa tekanan darahnya tinggi. Tekanan darah yang normal adalah <140/90 mmHg. Kita tak bisa tahu berapa tinggi tensi kalau tidak mengeceknya. Jika menunggu gejala seperti sakit kepala, pusing, pingsan, atau stroke, artinya kita menunggu terjadi komplikasi. Gejala yang tersebut di atas adalah tanda bahwa tubuh sudah memberi sinyal bahaya. Lebih baik mengetahui tekanan darah dengan benar-benar mengukur memakai tensimeter secara berkala. Pengobatan tekanan darah meliputi perubahan gaya hidup sehat: makanan rendah garam, berolahraga, mengurangi konsumsi gula, dan jika belum terkontrol, sebaiknya mengonsumsi obat-obatan.
  3. “Umur saya sudah tua. Tekanan darah 150-160 mmHg sudah biasa, tidak menyebabkan pusing dan tidak perlu minum obat.”
    Tekanan darah yang normal untuk semua umur adalah <140/90 mmHg, dengan target tekanan darah optimal adalah 125-135/60-80 mmHg. Orang tua, walaupun berusia >60 tahun, jika dibiarkan memiliki tekanan darah yang tinggi akan berisiko terjadi stroke dan serangan jantung. Karena tubuh sudah beradaptasi dengan tekanan darah yang lebih tinggi, menurunkan tekanan darah pada orang tua harus dilakukan secara perlahan. Penurunan tekanan darah yang mendadak bisa menyebabkan pusing/goyang saat berjalan. Pusing juga sering terjadi saat perubahan posisi misalnya dari tidur ke duduk, atau sebaliknya. Pemantauan atau kontrol dengan dokter diperlukan sekali agar tidak jatuh saat berjalan.
  4. “Saya tidak mengalami sakit dada, artinya saya tidak mengalami sakit jantung” , “Saya mengalami nyeri di ulu hati, apakah ini sakit jantung atau sakit asam lambung?”
    Gejala utama dan paling sering dari serangan jantung adalah nyeri dada atau sesak di dada yang menembus ke punggung, kadang-kadang menjalar ke leher seperti tercekik atau nyeri rahang, atau ke lengan kiri. Namun pada kasus tertentu gejala klasik seperti itu tidak nyata. Banyak pasien mengeluhkan tanda-tanda seperti sakit lambung/sakit maag, seperti nyeri ulu hati, mual dan muntah, pusing, ternyata terkena serangan jantung akut. Sebaliknya juga sama, tidak semua sakit dada merupakan serangan jantung. Nyeri pada bagian dada bisa terjadi karena naiknya asam lambung (dikenal sebagai penyakit GERD/ Gastoesophageal reflux disease), nyeri otot dan tulang, atau sakit kulit. Memeriksakan diri secara awal lebih baik ke dokter sangat dianjurkan agar penanganan yang cepat bisa dilakukan dan mencegah komplikasi yang lebih berat.
  5. “Walaupun saya menderita penyakit gula atau diabetes, saya tidak akan terkena penyakit jantung selama mengonsumsi obat-obat diabetes.”
    Mengontrol kadar gula darah dengan obat-obatan akan menurunkan risiko atau menghambat terjadinya penyakit jantung. Namun, bahkan jika kadar gula sudah terkontrol, seluruh penderita diabetes memiliki risiko tinggi jadi penyakit jantung dan stroke.

    Hal ini terjadi karena seluruh faktor yang menyebabkan penyakit gula, juga berpotensi menyebabkan penyakit penyempitan pembuluh darah arteri koroner, termasuk tekanan darah tinggi, kelebihan berat badan dan obesitas, aktivitas fisik yang kurang dan kebiasaan merokok.

  6. “Ada garis keturunan penyakit jantung pada keluarga saya, pasti saya akan terkena penyakit jantung.”
    Walaupun ada faktor risiko keluarga yang menderita penyakit jantung (faktor genetika atau faktor keturunan), ada beberapa hal yang bisa diupayakan untuk menurunkan risiko penyakit jantung secara signifikan. Antara lain adalah dengan:
    (1) memiliki kebiasaan olah fisik yang aktif, banyak bergerak dan berolahraga,(2) mengontrol kadar kolesterol (target LDL atau kolesterol jahat <70 mg/dL), (3) mengontrol pola makan: menghindari makanan dengan kadar lemak tinggi, mengurangi konsumsi gula, (4) mengontrol tekanan darah, (5) menjaga berat tubuh ideal, (6) kontrol gula darah dan (7) tidak merokok.
  7. “Saya tidak perlu memeriksa kadar kolesterol sebelum usia 40-50 tahun.”
    The American Heart Association (asosiasi dokter jantung di Amerika) merekomendasikan untuk pengecekan kadar kolesterol per 5 tahun sejak usia 20 tahun, terutama jika ada faktor risiko penyakit jantung yang kuat pada keluarga (faktor keturunan atau genetik). Anak-anak dengan faktor risiko keluarga yang kuat, memiliki risiko yang lebih tinggi terjadi penyakit jantung di usia yang lebih lanjut. Jika mengetahui kadar kolesterol yang tinggi sejak awal, bisa dilakukan antisipasi dengan diet sehat rendah lemak – rendah gula, dan berolahraga secara rutin (30-40 menit per kali, dengan frekuensi 3-4 x per minggu).
  8. “Minum kopi adalah kebiasaan yang buruk dan menyebabkan penyakit jantung.”
    Faktanya adalah kopi jika dikonsumsi dalam jumlah terbatas < 4 gelas perhari tidak memperburuk kesehatan, bahkan bisa berefek positif pada kesehatan. Yang berdampak buruk bagi tubuh adalah gula dan susu tinggi lemak yang dikonsumsi bersamaan dengan kopi. Akibatnya bisa meningkatkan kadar gula darah. Selain itu, karena bersifat asam, kopi bisa menyebabkan masalah pada lambung, terutama pada orang-orang yang sensitif. Meningkatnya asam lambung bisa menyebakan terjadinya nyeri ulu hati, sesak nafas hingga berdebar-debar yang gejalanya bisa menyerupai orang yang mengalami serangan jantung. Kopi tanpa gula (kopi pahit) yang diminum dalam porsi terbatas, yaitu 1-2 gelas per hari, tidak menyebabkan serangan jantung.
  9. “Penyempitan pembuluh darah hanya berakibat pada serangan jantung atau stroke”
    Jantung memompakan darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Pembuluh darah ini tersebar dimulai dari pembuluh darah besar yaitu aorta hingga pembuluh darah yang lebih kecil menuju otak, pembuluh di tangan dan kaki. Pembuluh darah pada kaki juga bisa mengalami penyempitan. Gejalanya adalah nyeri atau pegal pada otot kaki saat berjalan. Jika penyempitannya parah nyeri atau pegal kaki ini bahkan bisa terjadi pada saat istirahat. Kondisi ini disebut sebagai penyempitan pembuluh darah perifer (urat darah tepi) / peripheral arterial disease (PAD). Pasien diabetes dan hipertensi yang berisiko stroke dan serangan jantung, juga berisiko tinggi terjadi penyempitan pembuluh darah tepi.
  10. “Orang yang sudah terkena serangan jantung atau stroke dilarang berolah raga dan hanya boleh istirahat.”
    Ini adalah pandangan yang salah. Sesegera mungkin, setelah mengalami serangan jantung, pasien jantung harus segera mulai bergerak atau berolah fisik. Lakukan aktifitas fisik yang dianjurkan oleh dokter. Mulai dengan berjalan lambat hingga jalan cepat. Durasinya adalah selama 30-40 menit, 3-4 x per minggu. Jika fisik sudah lebih kuat, bisa berjalan cepat hingga berlari kecil. Olahraga lain yang dianjurkan adalah bersepeda, baik sepeda statis ataupun sepeda di jalanan. Penelitian membuktikan bahwa paska serangan jantung, penderita yang rajin berolahraga atau gerak tubuhnya aktif, bisa memperpanjang usia hidup. Pada saat berolahraga, jantung akan berdetak lebih cepat, sehingga bisa memompa darah lebih efisien, dan kesehatan pembuluh arteri juga lebih baik.

Untuk jadwal dokter klik disini

Narasumber:
dr Dasdo Antonius Sinaga, SpJP(K), FIHA
Konsultan Kardiologi Intervensi Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru

Ilustrasi gambar: Ben White

Bagikan ke :